Probolinggo (Surau.ID) – Ikatan Santri dan Alumni (IKSADA) bersama Ikatan Mahasiswa dan Alumni (IMADA) menggelar bedah buku Melampaui Warna Kulit di Pondok Pesantren Darul Lughah Wal Karomah 2 (DWK 2), Dusun Patemon, Kelurahan Sidomukti, Probolinggo, Sabtu (27/12/2025). Kegiatan berlangsung pukul 09.30–12.15 WIB.
Bedah buku ini diikuti perwakilan cabang IKSADA dan IMADA, mahasiswa Ma’had Aly, pengurus OSIS harian, serta penanggung jawab jurnalistik MA DWK. Forum tersebut menjadi ruang temu lintas generasi untuk memperkuat tradisi literasi dan diskusi intelektual di lingkungan pesantren.
Ketua IMADA Pusat, Gus Ahmad Baidlowi Nur Alam, menegaskan pentingnya kesungguhan peserta dalam mengikuti kegiatan intelektual. Ia berharap bedah buku tidak berhenti pada agenda seremonial.
“Paling tidak tumbuh jiwa-jiwa kritis terhadap apa yang didengar dan dikaji, bukan sekadar datang lalu pulang,” ujarnya. Menurutnya, bedah buku ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap karya alumni sekaligus upaya menumbuhkan kesadaran literasi santri dan mahasiswa pesantren.

Salah satu pemantik diskusi, Dr. Zuhri Humaidi, M.S.I., menyoroti tantangan literasi di era teknologi instan. Ia menilai kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, memang memudahkan pencarian jawaban, tetapi tidak selalu sejalan dengan kedalaman berpikir.
“Kita dimanjakan oleh AI yang bisa menjawab hampir semua persoalan. Namun, membaca buku tetap memberi pengalaman berpikir yang jauh berbeda,” katanya.
Penulis buku Melampaui Warna Kulit, Dr. Nurul Huda, M.Fil., menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari kegelisahan akademik dan sosial tentang cara manusia memandang perbedaan.
“Buku ini mengajak pembaca melihat manusia melampaui sekat-sekat lahiriah. Pada titik itu, kita belajar memanusiakan manusia,” ujarnya. Ia menilai pesan tersebut sejalan dengan tradisi keilmuan pesantren yang menjunjung nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Diskusi berlangsung aktif dengan beragam tanggapan peserta. Melalui kegiatan ini, panitia berharap tradisi membaca dan diskusi intelektual di pesantren semakin menguat dan berkelanjutan.
