Jakarta (Surau.ID) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mengukuhkan lima Peneliti Ahli Utama sebagai Profesor Riset dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (30/7).
Pengukuhan ini menjadi bentuk penghargaan atas pencapaian akademik tertinggi para peneliti sekaligus menegaskan peran strategis riset dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional.
Kelima profesor riset tersebut berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Melalui orasi ilmiah, mereka memaparkan hasil penelitian, inovasi, serta rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung kemandirian Indonesia di bidang teknologi satelit, pengelolaan limbah, energi nuklir, ketahanan pangan, hingga tata kelola kelautan.
Teknologi Satelit dan Energi Masa Depan
Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, memaparkan orasi ilmiah berjudul Inovasi Teknologi Satelit Mikro untuk Membangun Kemandirian Penginderaan Jauh Nasional. Menurutnya, penguasaan teknologi satelit mikro menjadi langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan data penginderaan jauh nasional dengan biaya yang lebih efisien.
Heru menjelaskan, hasil riset menunjukkan Indonesia telah mampu mengembangkan satelit mikro beresolusi tinggi yang berpotensi menjalankan misi lebih kompleks, termasuk membawa muatan Synthetic Aperture Radar (SAR).
“Riset kami menunjukkan bahwa dengan dikuasainya teknologi satelit mikro oleh Indonesia, sebagian besar kebutuhan satelit penginderaan jauh nasional akan dapat dipenuhi dengan biaya yang terjangkau. Dengan dukungan pemerintah dan kerja sama dengan pihak swasta, penguasaan teknologi tersebut juga akan memungkinkan terwujudnya industri satelit nasional,” ujar Heru.
Di bidang energi, peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Geni Rina Sunaryo, mengangkat orasi berjudul Tata Kelola Kimia Pendingin Reaktor Nuklir Menuju Era PLTN untuk Kemandirian Energi di Indonesia. Ia menilai pengelolaan kimia pendingin reaktor kini menjadi bagian penting dalam sistem keselamatan reaktor nuklir, bukan sekadar aspek pendukung operasional.
Geni mengembangkan Kerangka Integratif Keselamatan Kimia Reaktor yang memadukan data eksperimen, pemodelan prediktif, pemantauan daring, kecerdasan buatan (artificial intelligence), serta konsep digital twin. Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan sistem pengelolaan kimia pendingin berubah dari reaktif menjadi prediktif dan adaptif.
“Penguasaan kimia sistem pendingin reaktor merupakan landasan strategis dalam membangun keselamatan reaktor nuklir dan memperkuat kedaulatan energi nasional. Pengelolaannya kini harus bertransformasi menjadi sistem yang prediktif, adaptif, dan berbasis data,” tegas Geni.
Inovasi Lingkungan dan Ketahanan Pangan
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Awalina Satya, memperkenalkan teknologi biosirkulasi air limbah berbasis fotobioreaktor melalui orasi ilmiah berjudul Teknologi Biosirkulasi Air Limbah Menggunakan Fotobioreaktor untuk Kultivasi Mikroalga dan Sianobakteria.
Teknologi tersebut memanfaatkan mikroalga dan sianobakteria untuk mengolah air limbah menjadi air yang aman digunakan kembali sekaligus menghasilkan biomassa bernilai ekonomi. Selain menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen melalui fotosintesis, biomassa itu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pangan, pakan, farmasi, nutrasetikal, hingga bioenergi.
Awalina juga mengembangkan sejumlah inovasi pendukung, seperti biosorben berbasis mikroalga, fotobioreaktor membran, dan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) untuk memperkuat penerapan ekonomi sirkular.
“Teknologi biosirkulasi berbasis fotobioreaktor tidak hanya mengolah air limbah menjadi air yang aman digunakan kembali, tetapi juga menghasilkan biomassa bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan, farmasi hingga bioenergi,” jelas Awalina.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular BRIN, Bahtiar, menyoroti pentingnya reformulasi sistem agribisnis jagung melalui pendekatan rantai nilai dalam mendukung ketahanan pangan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, pembangunan sektor jagung tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Pemerintah juga perlu meningkatkan nilai tambah komoditas, memperkuat kesejahteraan petani, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Reformulasi agribisnis jagung harus ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi ketahanan pangan nasional, bukan sekadar program peningkatan produksi. Kebijakan harus mampu meningkatkan nilai tambah, kesejahteraan petani, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Bahtiar.
Reformasi Tata Kelola Kelautan Nasional
Pada bidang kebijakan publik, peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Dirhamsyah, mengangkat orasi ilmiah berjudul Deregulasi Progresif untuk Rekonstruksi Tata Kelola Kelautan Indonesia. Ia menilai potensi kelautan Indonesia belum dikelola secara optimal karena banyak regulasi sektoral yang saling tumpang tindih.
Menurut hasil kajiannya, kondisi tersebut memicu konflik kewenangan antarlembaga dan menghambat pengelolaan sumber daya kelautan secara terpadu. Untuk mengatasinya, Dirhamsyah mengusulkan pembentukan Undang-Undang Omnibus Kelautan agar seluruh regulasi dapat terintegrasi dalam satu kerangka hukum yang lebih komprehensif.
“Pembentukan Undang-Undang Omnibus Kelautan merupakan solusi untuk mengatasi tumpang tindih regulasi dan kewenangan sehingga tata kelola kelautan Indonesia menjadi lebih efektif, terpadu, dan berkelanjutan,” ungkap Dirhamsyah.