Kalimantan Tengah (Surau.ID) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan koordinasi lintas kementerian, lembaga, TNI, Polri, dan pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah. Langkah ini dilakukan menyusul meluasnya kebakaran yang telah menghanguskan 3.069,52 hektare lahan sekaligus mengantisipasi puncak musim kemarau dan fenomena El Niño yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemerintah memusatkan perhatian pada Kalimantan Tengah karena karakteristik lahan gambut di wilayah tersebut membuat api lebih mudah menyebar dan lebih sulit dipadamkan.
“Ini merupakan perintah dari Bapak Presiden Prabowo Subianto. Kami dari kementerian/lembaga, TNI, dan Polri, serta pemerintah daerah bergerak sesuai tugas pokok masing-masing. BNPB yang diamanatkan memegang komando saat tanggap dan siaga darurat turun langsung untuk memastikan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah berjalan optimal,” ujar Kepala BNPB usai Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Karhutla di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Kamis (30/7/2026) malam.
Data BNPB menunjukkan luas lahan yang terbakar di Kalimantan Tengah kini mencapai 3.069,52 hektare. Kondisi tersebut menempatkan provinsi ini sebagai salah satu wilayah prioritas nasional dalam penanganan karhutla. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026 untuk mempercepat langkah penanggulangan.
BNPB bersama seluruh unsur yang tergabung dalam satuan tugas gabungan kini mengoptimalkan operasi darat dan udara. Selain mengerahkan personel pemadaman di lapangan, BNPB memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menambah armada pesawat guna mempercepat pengendalian titik api.
Saat ini, Satgas Udara Penanganan Karhutla Kalimantan Tengah mengoperasikan dua unit helikopter patroli, tiga unit helikopter water bombing, serta satu pesawat jenis Caravan untuk mendukung pelaksanaan OMC. Menurut Suharyanto, potensi pembentukan awan hujan masih tersedia sehingga operasi tersebut perlu dimaksimalkan.
“OMC ini yang perlu ditambah karena sekarang di Kalimantan Tengah ini masih ada awan hujan, pertumbuhan awan hujan, dan ini kita sepakat nanti untuk dimaksimalkan,” terang Kepala BNPB.
Dalam rapat koordinasi tersebut, BNPB menetapkan sejumlah wilayah sebagai prioritas penanganan, di antaranya Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kelurahan Kameloh Baru, Kota Palangka Raya. Kedua lokasi dinilai memerlukan penanganan cepat karena kebakaran berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan akses transportasi.
BNPB juga memfokuskan pengerahan armada udara ke kawasan Tumbang Nusa agar api tidak meluas hingga jalur penghubung antarkabupaten dan antarkota.
“Tadi dipaparkan bahwa ada kebakaran yang mendekati jalan di area Tumbang Nusa. Ini akan kita intervensi secara serius. Seluruh armada pesawat Water Bombing akan kita prioritaskan ke titik tersebut, dikombinasikan dengan OMC untuk memicu hujan deras,” tegas Kepala BNPB.