JAKARTA (Surau.ID) — Kementerian Agama (Kemenag) membuka pendaftaran Sayembara “Surat Santri untuk Presiden” dalam rangka memperingati Hari Santri 2026. Kompetisi yang digelar Direktorat Jenderal Pesantren ini memberi kesempatan kepada santri untuk menyampaikan gagasan, harapan, dan pandangan mengenai persoalan bangsa melalui surat yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia.
Pendaftaran sayembara berlangsung mulai 25 September hingga 2 Oktober 2026. Peserta diwajibkan menulis surat dengan tangan menggunakan pulpen hitam atau biru, kemudian memindai hasilnya dan mengirimkannya dalam format PDF melalui email harisantri2026@kemenag.go.id.
Melansir Kemenag, Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said, mengatakan sayembara tersebut menjadi salah satu cara untuk membuka ruang bagi santri agar dapat menyampaikan gagasan mengenai masa depan Indonesia.
“Santri tidak hanya menjadi bagian dari sejarah bangsa, tetapi juga memiliki gagasan tentang Indonesia ke depan. Melalui surat ini, kami ingin memberikan ruang kepada santri untuk menyampaikan suara, harapan, dan gagasannya secara langsung kepada Presiden,” ujar Basnang Said di Jakarta, Minggu (27/9/2026).
Tiga Tema yang Bisa Dipilih Santri
Kasubdit Pendidikan Salafiyah dan Kajian Kitab Kuning, Yusi Damayanti, menjelaskan bahwa peserta dapat memilih salah satu dari tiga tema yang disediakan panitia. Ketiganya mencakup aspirasi mengenai pendidikan, kepedulian terhadap lingkungan, serta harapan untuk kesejahteraan rakyat.
Naskah surat dibatasi maksimal 700 kata atau dua halaman A4. Selain harus merupakan karya asli peserta, tulisan tersebut juga tidak boleh pernah menjadi juara dalam kompetisi lain.
Peserta juga perlu melengkapi pengiriman dengan data diri, identitas pesantren, nomor WhatsApp peserta dan/atau guru atau pembina santri, pilihan tema, naskah surat dalam format PDF, serta pernyataan keaslian karya.
“Pengiriman karya dilakukan secara daring melalui email, harisantri2026@kemenag.go.id pada 25 September sampai 2 Oktober 2026. Peserta mengirimkan data diri, identitas pesantren, nomor WhatsApp peserta dan/atau guru atau pembina santri, pilihan tema, naskah surat dalam format PDF, serta pernyataan keaslian karya,” jelas Yusi.
Bukan Sekadar Kompetisi Menulis
Basnang mengatakan tradisi menulis memiliki tempat penting dalam kehidupan pesantren. Karena itu, sayembara tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai ajang perlombaan, tetapi juga mendorong santri untuk berani menyampaikan pemikiran dan aspirasinya melalui tulisan.
“Kami ingin melihat bagaimana santri membaca zaman, melihat persoalan bangsa, sekaligus menawarkan harapan dan gagasan dari perspektif mereka,” katanya.
Selain memperebutkan penghargaan dalam sayembara, para pemenang akan memperoleh kesempatan untuk menghadiri “Malam Bhakti Santri untuk Negeri”. Acara tersebut menjadi malam puncak peringatan Hari Santri 2026 dan akan mengundang Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.