PROBOLINGGO (Surau.ID) – Kawasan Wisata The Bentar Beach, Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo mendadak berubah menjadi lautan putih-hitam pada Ahad (28/6) pagi. Ribuan kader Nahdlatul Ulama (NU) yang bernaung di bawah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan memadati bibir pantai untuk mengikuti Apel Akbar Kader NU.
Sejak pukul 05.30 WIB, suasana khidmat sudah terasa di tepi pantai. Deru ombak dan semilir angin laut mengiringi langkah para ulama kharismatik, jajaran pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kraksaan, serta ribuan kader dari berbagai Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) yang hadir dengan penuh antusias.
Kekompakan sangat terlihat dari pakaian yang dikenakan para peserta sesuai instruksi panitia. Kader laki-laki tampak bersahaja dengan peci hitam, baju putih, serta sarung atau celana gelap. Sementara kader perempuan anggun mengenakan kerudung hitam dipadu baju putih dan rok panjang gelap.
Rangkaian acara sakral ini diawali dengan pembacaan Istighosah dan shalawat Nabi yang menggema di sepanjang pantai, dilanjutkan dengan prosesi Ijazah Wali Kutuban.
Suasana kian membakar semangat saat pembacaan 9 Perintah Kader NU dikumandangkan, yang diikuti dengan pernyataan sikap tegas untuk mendukung gerakan kemandirian umat melalui Lazisnu dan penguatan kaderisasi PD-PKPNU. Acara kemudian ditutup dengan penyampaian Amanah Apel Kader NU oleh pimpinan wilayah.

Ainul Yakin, salah satu Pengurus Ranting NU Liprak Kidul, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas kesuksesan agenda konsolidasi ini.
Menurutnya, kehadiran kader hingga tingkat ranting (desa) membuktikan bahwa struktur NU di akar rumput tetap solid dan militan.
Bagi dia, apel akbar di Pantai Bentar ini bukan sekadar kumpul-kumpul seremonial melainkan suntikan energi spiritual dan organisasi yang luar biasa. Bertemu langsung dengan para ulama dan ribuan saudara se-iman di sini mempertebal rasa kepemilikan kita terhadap NU.
“Sepulang dari sini, kami berkomitmen untuk langsung menancapkan gas, menggerakkan roda organisasi di desa, khususnya dalam memaksimalkan potensi koin Lazisnu untuk kesejahteraan warga,” ujar.
Selaras dengan hal tersebut, Hafidz, kader penggerak dari MWC NU Banyuanyar. Berbicara mengenai arah gerak NU ke depan, Hafidz menekankan pentingnya adaptasi zaman tanpa kehilangan jati diri ala Ahlussunnah wal Jamaah.
Baginya, tantangan NU ke depan tentu jauh lebih kompleks, baik di sektor sosial, ekonomi, maupun teknologi. Namun, melihat antusiasme dan komitmen kader yang luar biasa hari ini, saya sangat optimis NU ke depan akan jauh lebih mandiri dan berdaya.
“Melalui penguatan sistem kaderisasi PD-PKPNU yang masif, kita sedang mencetak arsitek-arsitek peradaban. NU masa depan adalah NU yang tidak hanya kuat secara jamaah di masjid dan madrasah, tapi juga mandiri secara ekonomi dan hadir sebagai solusi konkret di tengah problematika umat,” tegasnya.
Dengan latar keindahan Pantai Bentar yang menawan, agenda ini berhasil meneguhkan kembali ukhuwah (persaudaraan) serta memperkuat komitmen perjuangan kader untuk terus mengabdi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.