JAKARTA (Surau.ID) — Dunia sepak bola memiliki sejumlah pemain dengan latar belakang keluarga yang tidak biasa. Dua di antaranya adalah Al-Saadi Gaddafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dan Romano Floriani Mussolini, cicit diktator fasis Italia Benito Mussolini.
Keduanya memiliki hubungan darah dengan tokoh politik yang dikenal menjalankan pemerintahan otoriter. Namun, perjalanan karier mereka di dunia sepak bola berlangsung dengan pengalaman dan pencapaian yang berbeda.
Nama pesepakbola dan tokoh politik kembali menjadi perbincangan setelah Kylian Mbappe menuai kontroversi di China. Bintang Real Madrid tersebut mendapat kecaman setelah pernyataannya mengenai meme yang menggambarkan dirinya menyerupai Mao Zedong, tokoh revolusi sekaligus pendiri Republik Rakyat China.
Mbappe mengaku menyukai meme yang menyamakannya dengan seorang diktator China. Ia bahkan disebut kerap menggunakan gambar serupa bersama teman-temannya.
Pernyataan itu memicu reaksi dari sejumlah pihak di China. Perusahaan Dongpeng dan Mengniu dilaporkan memutuskan kerja sama dengan Mbappe. Kementerian Luar Negeri China juga menyampaikan penyesalan atas pernyataan tersebut.
Mbappe kemudian menyampaikan permintaan maaf karena ucapannya telah menyinggung masyarakat Tiongkok.
Di luar kontroversi tersebut, terdapat dua pesepakbola yang memang memiliki hubungan keluarga langsung dengan diktator terkenal. Berikut perjalanan karier keduanya.
1. Al-Saadi Gaddafi
Al-Saadi Gaddafi merupakan putra Muammar Gaddafi, pemimpin Libya yang berkuasa selama 42 tahun hingga pemerintahannya berakhir pada 2011. Al-Saadi aktif sebagai pesepakbola pada periode 1997 hingga 2007.
Kariernya di lapangan hijau tidak terlepas dari pengaruh keluarganya di Libya. Ia berhasil menembus tim nasional dan pernah menduduki posisi pimpinan Federasi Sepak Bola Libya.
Menurut laporan The Guardian, Al-Saadi dituduh mengatur pertandingan dengan menyuap atau menekan wasit agar memberikan keuntungan kepada klubnya, Al-Ahly Tripoli.
Hubungan ayahnya dengan Silvio Berlusconi, yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Italia, turut membuka jalan bagi Al-Saadi untuk berkarier di kompetisi Italia pada 2003.
Perugia menjadi klub Italia pertama yang merekrutnya, antara lain karena potensi bisnis dan publisitas dari kedatangannya. Namun, kesempatan bermainnya sangat terbatas. Al-Saadi hanya sekali tampil di Serie A bersama Perugia, yakni sebagai pemain pengganti saat menghadapi Juventus pada 2004.
Perjalanan kariernya kemudian diwarnai masalah setelah ia dinyatakan gagal dalam tes doping karena ditemukan zat terlarang nandrolon dalam tubuhnya.
Pada 2005, Al-Saadi bergabung dengan Udinese. Kesempatan bermainnya kembali terbatas karena ia hanya mencatatkan satu penampilan sebagai pemain pengganti.
Dua tahun kemudian, ia pindah ke Sampdoria. Di klub tersebut, Al-Saadi tidak mencatatkan penampilan dalam pertandingan kompetitif. Sampdoria menjadi klub terakhir dalam karier profesionalnya.
2. Romano Floriani Mussolini
Berbeda dengan Al-Saadi Gaddafi, Romano Floriani Mussolini merupakan cicit Benito Mussolini, pemimpin fasis Italia yang berkuasa pada 1922 hingga 1943. Hubungan keluarga itu berasal dari ibunya, Alessandra Mussolini, yang merupakan cucu Benito Mussolini.
Romano meniti karier sepak bola melalui jalur pembinaan pemain muda. Ia mengembangkan kemampuannya di akademi Lazio sebelum menjalani debut profesional bersama klub tersebut pada 2022.
Setelah debut, Romano menjalani sejumlah masa peminjaman untuk mendapatkan kesempatan bermain. Ia memperkuat Pescara pada 2023, Juve Stabia pada 2024, dan Cremonese pada 2025.
Pada 2026, Romano kembali dipercaya masuk skuad utama Lazio. Ia kemudian mendapatkan kesempatan bermain sebagai starter sejak awal kompetisi Liga Italia musim 2026/2027.
Perkembangannya berlanjut ketika ia mencetak gol pertamanya di Serie A dalam kemenangan Lazio atas Sassuolo dengan skor 6-2 pada akhir pekan lalu.
Meski memiliki nama keluarga yang lekat dengan sejarah politik Italia, Romano menegaskan keinginannya untuk dinilai berdasarkan kemampuan di lapangan.
“Saya hanya mau dinilai karena performa saya di Lazio dan bukan karena nama belakang saya adalah Mussolini,” kata Romano saat menandatangani kontrak bersama Lazio.
Perjalanan Al-Saadi Gaddafi dan Romano Floriani Mussolini memperlihatkan dua latar belakang berbeda dalam dunia sepak bola. Keduanya memiliki garis keturunan dari tokoh politik berpengaruh, tapi menempuh perjalanan karier yang tidak sama, mulai dari pengalaman bermain di Italia hingga upaya membangun reputasi masing-masing sebagai pesepakbola.