SURABAYA (Surau.ID) – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur menggelar diskusi ilmiah daring bertajuk “Menakar Ekoteologi Islam: Beriman di Bawah Ancaman Krisis Lingkungan” pada Minggu (8/3/2026). Melalui platform Zoom, kajian ini membedah peran spiritualitas dalam menghadapi kerusakan alam yang kian masif.
Hadir sebagai pembicara utama, Mundhirul Ma’had Aly Paiton Probolinggo, Gus Muhammad Al-Fayyadl, M.Phil., menekankan bahwa isu lingkungan bukan sekadar masalah teknis atau ekonomi. Menurutnya, krisis ekologi saat ini merupakan cerminan dari krisis etika dan spiritualitas manusia.
Gus Fayyadl menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan adalah satu kesatuan moral yang tak terpisahkan. Ia mengingatkan bahwa posisi manusia sebagai khalifah fil ardh membawa tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan bumi.
“Islam memiliki landasan teologis yang sangat kuat. Alam adalah amanah dari Tuhan yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab, bukan dieksploitasi tanpa kendali,” paparnya di hadapan kader PMII se-Jawa Timur melalui zoom meeting.
Dalam sesi dialog, dinamika diskusi semakin hangat saat salah satu peserta bernama Sulton mempertanyakan peran nyata mahasiswa dalam memitigasi kerusakan hutan, laut, dan pegunungan.
Menjawab kegelisahan tersebut, Gus Fayyadl menegaskan bahwa transformasi gerakan lingkungan harus dimulai dari penguatan iman. Kesadaran spiritualitas dipandang sebagai fondasi utama sebelum melangkah ke aksi advokasi di lapangan.
“PMII harus meningkatkan kualitas dan mutu keimanan, bahwa segala bentuk kekayaan alam yang ada merupakan titipan dari Allah SWT yang wajib dijaga,” tegas tokoh intelektual muda asal Probolinggo tersebut.
Kegiatan ini menegaskan posisi PKC PMII Jawa Timur dalam mengawal isu-isu ekologis. Melalui kajian ini, para kader diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keberlanjutan alam demi masa depan generasi mendatang.