JAKARTA (Surau.ID) — Partai Gerindra kokoh di puncak elektabilitas partai politik berdasarkan survei nasional terbaru Poltracking Indonesia. Partai pimpinan Presiden Prabowo Subianto ini mengantongi dukungan publik sebesar 23,2 persen, mengungguli PDI Perjuangan dan Partai Golkar.
Peneliti Poltracking Indonesia, Yoki Alvetro, menjelaskan bahwa simulasi pengukuran ini dilakukan dengan pertanyaan langsung kepada responden terkait pilihan partai politik atau calon anggota DPR RI jika pemilu digelar saat ini.
Dalam survei yang berlangsung pada 14–20 Agustus 2026 tersebut, PDIP membuntut di posisi kedua dengan elektabilitas 11,6 persen, disusul Partai Golkar di peringkat ketiga dengan 10,4 persen.
“Gerindra teratas dan cenderung stabil. Sempat melonjak pada Maret dan Mei, namun mengalami sedikit penurunan pada periode Juli–Agustus,” ujarnya.

Di bawah barisan tiga besar, persaingan di papan tengah diisi oleh persentase yang cukup ketat:
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB): 6,2%
Partai Demokrat: 6,1%
Partai NasDem: 4,4%
Partai Amanat Nasional (PAN): 3,4%
Partai Keadilan Sejahtera (PKS): 3,3%
Partai Solidaritas Indonesia (PSI): 2,3%
Partai Persatuan Pembangunan (PPP): 1,9%
Adapun partai politik peserta pemilu lainnya mengantongi perolehan di bawah 1 persen.
Melihat rekam jejak tren pergerakan suara sejak Oktober 2023, Poltracking mencatat beberapa pergeseran elektoral:
PDIP sempat menyentuh angka 15,7 persen sebelum akhirnya terkoreksi ke level 11,6 persen pada Agustus 2026.
Golkar terus bergerak stabil dengan tren positif pada periode Juli–Agustus.
PKB relatif stabil meski mengalami penurunan perlahan dari posisi 8,4 persen di akhir 2023.
Demokrat merangkak naik dari 5,4 persen menjadi 6,1 persen.
NasDem dan PKS sama-sama mengalami penurunan dari angka awal (NasDem sempat 6%, PKS 5,6%).
Riset Poltracking juga mengungkap temuan menarik soal perilaku pemilih. Mayoritas masyarakat ternyata lebih memprioritaskan figur calon anggota legislatif (caleg) ketimbang partai pengusungnya.
Sebanyak 53,3 persen responden mengaku lebih mempertimbangkan sosok caleg, sementara pemilih yang mendasarkan pilihan murni pada partai politik hanya sebesar 24,7 persen.
Sejalan dengan hal tersebut, latar belakang keluarga menjadi pertimbangan teratas pemilih dalam menentukan partai (8,8%), diikuti faktor ketokohan pimpinan partai (6,8%), rekam jejak kinerja kader (5,9%), serta strategi kampanye kreatif (5,8%).
“Figur tokoh dan calon-calon yang diusung menjadi alasan utama publik dalam memilih partai politik,” pungkasnya.
Survei ini menjangkau 1.220 responden di 38 provinsi di Indonesia yang dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling berdasarkan data DPT 2024. Wawancara dilakukan secara tatap muka (face-to-face) dibantu aplikasi digital oleh pewawancara terlatih, di mana setiap pewawancara memegang 10 responden per desa/kelurahan.
Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, survei ini memiliki margin of error sebesar ±2,9 persen.