PROBOLINGGO (Surau.ID) – KH Badri Mashduqi, ulama kharismatik asal Kraksaan, menunjukkan kearifan luar biasa dalam menyikapi perbedaan pandangan mengenai hukum rokok, dengan tetap mengedepankan toleransi dan kemaslahatan bagi umat.
Meskipun beliau sendiri bukan perokok, Kiai Badri dikenal sangat menghormati perokok. Sikap bijak ini tercermin dari kebiasaannya memberikan rokok sebagai bentuk perhatian kepada kerabat atau santri yang memang terbiasa merokok.
Kisah beliau menjadi teladan bagaimana seorang pemimpin agama tidak kaku dalam berfatwa, melainkan mempertimbangkan konteks dan kondisi sosial masyarakat agar tidak menimbulkan beban batin atau kesulitan ekonomi yang besar bagi umat.
Toleransi dalam Perbedaan Pandangan
Kiai Badri dikenal sebagai sosok multidimensi, mulai dari “Singa Podium” hingga “Kiai Bahtsul Masail”. Kedalaman ilmunya tidak membuatnya merasa paling benar, melainkan menjadikannya pengayom yang sangat menghargai kebiasaan orang lain selama tidak melanggar syariat.
Terdapat kesaksian dari Ustadz Ahmad Shabri, sekretaris beliau, yang sering diberi rokok oleh Kiai Badri. Tindakan tersebut merupakan manifestasi nyata dari sifat beliau yang inklusif, merangkul siapa saja tanpa memandang perbedaan selera atau kebiasaan pribadi.
Menjaga Kemaslahatan Umat
Puncak kearifan beliau terlihat saat memberikan solusi bagi pengusaha tembakau yang cemas akibat hukum rokok. Beliau mampu memberikan jawaban yang menenangkan jiwa sang pengusaha tanpa harus merendahkan pandangan kiai lain yang mengharamkan rokok.
“Engghi mon bagi Keae ganeka haram tape mon empean bunten (Ya bagi kiai itu haram, tapi bagi kamu tidak),” ujar KH Badri Mashduqi, memberikan ketenangan dan jalan keluar yang logis serta manusiawi bagi pengusaha tersebut. Langkah ini mencerminkan kebijaksanaan seorang ulama yang memahami bahwa fatwa harus memperhatikan kondisi objektif penanya.
Dengan kearifannya, beliau tidak hanya menjaga persaudaraan antar-ulama, tetapi juga memastikan bahwa dakwah tetap memberikan solusi konkret dan membawa kedamaian bagi masyarakat luas yang sedang berjuang mengais rezeki.