JEMBER (Surau.ID) – Upaya mengenalkan budaya lokal kepada generasi sejak dini terus dilakukan Universitas Jember (UNEJ). Melalui Fakultas Ilmu Budaya (FIB), UNEJ menggandeng komunitas Sekolah Sastra Anak menggelar Festival Anak CERIA (Cerita dan Literasi) sekaligus meluncurkan buku cerita anak berbasis budaya Pandhalungan berjudul Perahu Cahaya Putri Jembersari.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari hilirisasi hasil riset dan luaran Program Hibah Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNEJ. Penelitian ini diketuai dosen Program Studi Sastra Inggris FIB UNEJ, Ganesya Hari Murti, S.S., M.Hum., dengan melibatkan komunitas Sekolah Sastra Anak sebagai mitra dalam mengembangkan media literasi yang dekat dengan dunia anak dan budaya lokal.
Festival diikuti sekitar 30 anak berusia 5 hingga 12 tahun. Beragam kegiatan dikemas secara interaktif agar anak-anak dapat mengenal literasi sekaligus budaya Pandhalungan dengan cara yang menyenangkan.
Kegiatan diawali dengan sesi read aloud atau membaca nyaring yang dibawakan mahasiswi Sastra Indonesia FIB UNEJ, Veronica. Ia membacakan cerita Legenda Gunung Tambo dan Hilangnya Semrani, salah satu kisah yang terdapat dalam buku Perahu Cahaya Putri Jembersari.
Suasana semakin meriah ketika peserta diajak membuat mini zine dan mewarnai dengan tema budaya Pandhalungan. Berbagai karya yang dihasilkan kemudian dipajang di Pohon Kreasi sebagai ruang apresiasi bagi kreativitas anak-anak.
Inisiator Sekolah Sastra Anak, Amalia Zulfa, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar anak-anak dari berbagai rentang usia dapat berinteraksi dan menikmati kegiatan bersama.
“Agenda Festival Anak CERIA berjalan dengan lancar. Meskipun peserta memiliki rentang usia 5 hingga 12 tahun, mereka tetap bisa membaur, menikmati, dan bersenang-senang bersama dalam sesi yang kami kemas,” kata Amalia.
Puncak rangkaian kegiatan ditandai dengan peluncuran buku Perahu Cahaya Putri Jembersari yang berlangsung di Al Kautsar Education Center, Wirolegi, Jember, pada 6 September 2026.
Buku tersebut terdiri atas empat seri utama, yakni pahlawan, legenda, kuliner, dan musik. Materinya dirancang untuk memperkenalkan kekayaan budaya kawasan Tapal Kuda kepada anak-anak dengan pendekatan yang ringan dan mudah dipahami.
Dalam talkshow peluncuran, Ganesya Hari Murti menekankan bahwa sastra anak dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan budaya sekaligus membangun kedekatan anak dengan identitas daerahnya.
“Karya sastra anak yang berangkat dari budaya lokal memiliki peran penting dalam memperkuat identitas sekaligus menjadi media pembelajaran yang kontekstual bagi anak-anak,” ujar Ganesya.
Ia juga mendorong orang tua untuk turut mengenalkan nilai dan kekayaan budaya lokal kepada anak sejak usia dini.
Pengembangan buku tersebut melibatkan kolaborasi lintas bidang. Nirina Wildania berperan sebagai ilustrator, sedangkan Nadhiva Shafa mengisi suara untuk versi audiobook.
Peluncuran buku juga diramaikan penampilan anak-anak Al Kautsar Education Center melalui pembacaan puisi dan drama wayang Pandhalungan yang diadaptasi dari cerita dalam buku.
Melalui kolaborasi antara penelitian akademik, sastra, seni, dan komunitas, UNEJ berupaya memastikan hasil penelitian perguruan tinggi tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat.
Amalia berharap buku tersebut dapat menjangkau lebih banyak anak dan keluarga di berbagai daerah.
“Kami senang agenda ini berjalan dengan baik dan mendapat sambutan positif. Harapannya, buku ini tidak hanya berhenti dibaca sampai di sini, tetapi dapat menjangkau lebih banyak anak dan orang tua untuk mengenal budaya, khususnya budaya Pandhalungan yang menjadi identitas masyarakat di kawasan Tapal Kuda,” pungkasnya.