Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
08 Januari 2026 | 09:30 WIB
Nasional

“Gus, Manuk Emprit”: Kisah Persahabatan Gus Dur dan Kiai Zaenun Ajibarang yang Diingat Seumur Hidup

Whatsapp image 2026 01 07 at 145557
Wakil Sekretaris PCNU Banyumas, Ketua Tanfidziyah MWC NU Ajibarang dan Rais Syuriah MWC NU Ajibarang dalam acara Haul ke 16 Gus Dur Rabu,(31/12/2025).

 

Banyumas (Durau.ID) – Satu kalimat sederhana menghubungkan kembali dua sahabat lama. Ucapan “Gus, manuk emprit” langsung mengingatkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Kiai Zaenun, kawan seperjuangan semasa mondok di Pesantren Tegalrejo, Magelang.

Dilansir NU Online Jateng, kisah itu kembali disampaikan dalam peringatan Haul ke-16 Gus Dur di Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (31/12/2025) malam. Cerita tersebut mengundang keharuan jamaah yang hadir.

Kisah persahabatan ini disampaikan Wakil Ketua MWC NU Ajibarang, Nisful Aji. Ia menceritakan pengalaman ayahnya, Kiai Zaenun, saat kembali bertemu Gus Dur dalam Musyawarah Nasional NU di Cilacap pada 1987.

Menurut Nisful, ayahnya sadar nama “Zaenun” terlalu umum untuk langsung diingat. Ia memilih menggunakan penanda kenangan yang hanya dipahami mereka berdua.

Kalimat “Gus, manuk emprit” menjadi sandi masa muda. Ungkapan itu merujuk kebiasaan Gus Dur saat nyantri di Tegalrejo.

Gus Dur dikenal gemar memelihara burung emprit kecil. Kiai Zaenun sering menemani merawat burung tersebut hingga siap dilepas.

“Ketika burung sudah terbang tinggi, Gus Dur bertepuk tangan. Anehnya, burung itu justru kembali mendarat ke beliau,” tutur Nisful menirukan cerita ayahnya.

Sapaan singkat itu langsung membangkitkan ingatan Gus Dur. “Zaenun, ya?” jawab Gus Dur spontan saat itu.

Kisah “Manuk Emprit” menjadi bagian refleksi dalam kegiatan Haul ke-16 Gus Dur dan Refleksi Akhir Tahun 2025. Acara ini digelar Lakpesdam MWC NU Ajibarang di Padepokan Lingsir Wengi, Desa Ajibarang Kulon.

Kegiatan dihadiri jajaran pengurus MWC NU Ajibarang. Acara diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin Rais Syuriyah MWC NU Ajibarang, KH. Zulfa Muhammad Nur.

Ketua MWC NU Ajibarang, Slamet Ibnu Ansori, menyebut peringatan Haul Gus Dur telah menjadi tradisi yang terus dijaga. Ia menilai haul bukan sekadar seremoni.

“Dalam kondisi apa pun dan sesederhana apa pun, Haul Gus Dur harus tetap dilaksanakan,” ujarnya. Menurutnya, haul menjadi ruang merawat ingatan dan meneladani nilai perjuangan Gus Dur.

Ia juga menekankan pentingnya refleksi akhir tahun. Kegiatan tersebut menjadi pengingat nilai keikhlasan dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama.

Gus Dur dan Nilai Kemanusiaan

Dalam sesi refleksi, Wakil Sekretaris PCNU Banyumas, Djito el Fateh, menyebut Gus Dur telah mencapai tingkatan keyakinan spiritual tertinggi. Ia menyebut ilmul yaqin, ainul yaqin, hingga haqqul yaqin tercermin dalam sikap hidup Gus Dur.

“Keberpihakan Gus Dur pada manusia lahir dari ilmu dan keyakinan yang mendalam,” katanya.

Menutup rangkaian acara, Ketua Lakpesdam NU Ajibarang, Mahbub Fuad Wibowo, berharap refleksi Haul Gus Dur memberi energi baru bagi kader NU. Ia mendorong warga NU Ajibarang terus meneladani para ulama dan kiai pendahulu.

“Semoga kita selalu bisa belajar dari para ulama dan kiai pendahulu,” pungkasnya.

Penulis: Zainul Hasan R
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id