Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
19 Desember 2025 | 09:13 WIB
Pesantren

Gus Mus Ungkap Mengapa Gus Dur Dicintai Banyak Kalangan

IMG 20251219 WA0002
Gus Mus (Foto: Screenshot YouTube/NU Online)

 

Jombang, Surau.ID – Peringatan Haul Ke-16 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur digelar keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng di Kompleks Makam Masyayikh Tebuireng, Jombang, Rabu (17/12/2025). Dalam kesempatan itu, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengulas sisi personal Gus Dur yang membuatnya dicintai lintas kelompok.

Menurut Gus Mus, kecintaan masyarakat kepada Gus Dur berangkat dari niat yang tulus dan totalitasnya dalam melayani sesama. Sejak awal, kata dia, Gus Dur telah menata hidupnya dengan tujuan memberi manfaat bagi orang lain.

“Sekarang ini banyak orang ilmunya banyak, umurnya panjang, tapi tidak kunjung selesai dengan urusan dirinya. Gus Dur itu tokoh yang sudah selesai dengan dirinya,” ujar Gus Mus, dikutip dari NU Online, Kamis, 18 Desember 2025.

Ia menuturkan, kesederhanaan Gus Dur tercermin dalam cara pandangnya menghadapi persoalan hidup. Ungkapan “Gitu aja kok repot” bukan sekadar candaan, melainkan refleksi sikap batin yang tidak membiarkan masalah pribadi menghambat pengabdiannya kepada publik.

Sikap itulah, menurut Gus Mus, yang membuat Gus Dur mudah diterima dan dirasakan dekat oleh banyak kalangan. Ada yang mengaguminya karena kemanusiaannya, ada pula yang menyanjung sikap demokrasinya dan toleransinya. Namun, bagi Gus Mus, kecintaan kepada Gus Dur bermula dari ketulusan hidupnya.

“Menurut saya, beliau dicintai oleh Allah,” kata pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, itu.

Gus Mus lalu mengenang satu peristiwa yang menggambarkan kesahajaan Gus Dur semasa menjabat Presiden Republik Indonesia. Ia menyebut Gus Dur pernah meminjam uang kepada salah satu anaknya hanya untuk membeli bakso. Padahal, kata Gus Mus, saat masih sama-sama belajar di Mesir, Gus Dur dikenal royal dan kerap mentraktir teman-temannya.

“Beasiswanya sama-sama delapan pound, tapi dia selalu mentraktir. Saya heran,” kenang alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, itu.

Menurut Gus Mus, Gus Dur adalah pemimpin yang telah menuntaskan urusan pribadinya. “Yang tersisa hanya memberi. Tidak ada pamrih, tidak ingin apa-apa. Itu Gus Dur,” ujarnya.

Sebelumnya, putri kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, juga mengungkap alasan ayahnya seolah menjadi milik banyak kalangan. Ia menilai hal itu lahir dari ketulusan Gus Dur dalam bersikap dan bertutur, bahkan kerap mengesampingkan kepentingan keluarga.

“Orang yang ikhlas berjuang untuk kepentingan orang banyak, terutama mereka yang terzalimi dan mustadh’afin, Gus Dur selalu berada di paling depan,” kata Yenny di hadapan jamaah haul.

Dalam momentum haul sekaligus syukur atas penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional, Yenny mengajak warga Nahdlatul Ulama untuk meneladani keikhlasan para ulama dalam mendampingi dan mengabdi kepada masyarakat.

“Keikhlasan itulah yang membesarkan Nahdlatul Ulama sampai hari ini,” ujarnya.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id