CIREBON (Surau.ID) – Empat alumni PTKIN melakukan riset kolaboratif untuk membedah tantangan pengajaran bahasa Inggris di pesantren, guna merumuskan formula pembelajaran yang lebih kontekstual dan efektif bagi santri di era modern.
Penelitian yang terbit dalam International Journal of Language Teaching and Education ini menyoroti perlunya pergeseran paradigma dari metode prosedural menuju pengajaran yang lebih autentik, interaktif, dan berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis santri.
Riset ini melibatkan empat lulusan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang saat ini menempuh pendidikan pascasarjana. Mereka meneliti realitas praktik bahasa di Pesantren Babakan Ciwaringin dengan menggunakan metode campuran untuk memetakan kebutuhan mendasar dalam berkomunikasi.
Evaluasi Pola Komunikasi Santri
Temuan riset menunjukkan bahwa praktik bahasa asing di pesantren masih didominasi kegiatan rutin seperti percakapan harian dan pidato. Sayangnya, intensitas tinggi tersebut belum sepenuhnya membangun kompetensi komunikasi tingkat tinggi yang menuntut penalaran kritis serta kemampuan berargumen secara spontan di depan publik.
Hambatan utama yang diidentifikasi adalah budaya pembelajaran yang masih terlalu fokus pada ketepatan tata bahasa. Hal ini secara psikologis menciptakan beban tersendiri bagi santri yang kemudian membatasi keberanian mereka untuk menyampaikan gagasan secara terbuka di luar batasan aturan struktur kalimat yang kaku.
Transformasi Pedagogi Menuju Berpikir Kritis
Langkah strategis ke depan adalah mengadopsi model pengajaran yang lebih fokus pada interaksi nyata, seperti diskusi pemecahan masalah dan berbagi opini. Pendekatan ini diharapkan mampu mengasah kemampuan berpikir kritis tanpa harus menanggalkan identitas keislaman yang menjadi akar kuat pendidikan di pondok pesantren.
“Kami berharap model ini menjadi rujukan agar pembelajaran bahasa tidak hanya sekadar mengejar target kelancaran dasar, melainkan juga membentuk pola pikir yang tajam,” ujar Agung Ahdiansyah, salah satu anggota tim riset.
Diharapkan, transformasi pedagogi ini mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan mampu menjawab kebutuhan santri dalam menghadapi tantangan global dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur kepesantrenan yang telah terjaga selama ini.