Jakarta (Surau.ID) – Santri dan warga Pondok Pesantren Almuta’alimin di Desa Sirnamekar, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, harus mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan air bersih.
Tanpa jembatan penghubung, mereka terpaksa menyeberangi Sungai Cikaso yang berarus deras setiap kali saluran air mengalami kerusakan.
Satu-satunya sumber air berasal dari mata air Sungai Sinagar di Desa Bojong. Air dialirkan menggunakan selang plastik sepanjang sekitar 250 meter yang membentang melintasi Sungai Cikaso menuju permukiman.
Pimpinan Ponpes Almuta’alimin, Kiai Saprudin (46), menyebut kondisi tersebut telah berlangsung hampir satu dekade.
“Sudah hampir 10 tahun kami bertahan seperti ini. Kalau selang bocor atau rusak, santri dan warga harus menyeberang sungai pakai rakit bambu, bahkan berenang, karena tidak ada jembatan,” ujar Saprudin, Senin (2/2/2026).
Menurut Saprudin, air tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan wudu. Untuk minum, warga yang mampu membeli air galon, sementara lainnya merebus air sendiri.
Perangkat Desa Sirnamekar, Endang Taryana, mengatakan kondisi geografis wilayah yang berada di dataran tinggi menyulitkan pencarian sumber air alternatif.
“Kalau bikin sumur gali sering gagal, tidak ada airnya. Dulu pernah ada sumur bor dekat kantor desa, tapi sekarang airnya kering dan tidak berfungsi,” kata Endang.
Saat ini, sekitar 30 kepala keluarga bersama para santri masih bergantung pada selang darurat tersebut. Warga berharap pemerintah daerah dan para donatur segera membangun jaringan air bersih dan jembatan permanen demi keselamatan dan kelangsungan hidup masyarakat.