LUMAJANG (Surau.ID) — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non-subsidi atau Pertamina Dex berdampak langsung pada usaha pertambangan pasir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Para pengusaha dan sopir truk pasir kini menaikkan harga jual pasir hingga 30 persen untuk menutupi biaya operasional alat berat yang menggunakan BBM nonsubsidi.
Saat ini, harga satu truk pasir di Lumajang mencapai Rp650 ribu, naik Rp200 ribu dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp450 ribu per truk.
Sopir truk pasir asal Lumajang, Iwan, menjelaskan bahwa kenaikan harga pasir bukan berasal dari biaya angkutan truk. Sebab, armada pengangkut pasir masih menggunakan biosolar subsidi yang harganya relatif stabil.
“Kalau operasional truk tidak ada kendala. Kalau alat berat, kan harus pakai Dex, tidak boleh pakai biosolar. Jadi harga pasir naik,” ujar Iwan.
Menurutnya, para penambang harus menggunakan Pertamina Dex untuk mengoperasikan alat berat di lokasi tambang. Kondisi itu membuat biaya produksi meningkat dan berdampak pada harga pasir di pasaran.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Iwan mengaku membeli pasir dalam jumlah lebih banyak dari penambang agar tetap memperoleh keuntungan tambahan.
“Satu truk itu kan isinya tujuh kubik. Biasanya saya beli 8-9 kubik. Nanti yang 1,5 atau 2 kubik kami turunkan di rumah. Nah, itu tabungan kita supaya tetap bisa makan,” katanya.
Permintaan Pasir Sepi, Pengusaha Tak Berani Naikkan Harga Terlalu Tinggi
Kenaikan harga solar non-subsidi juga membuat pengusaha stockpile pasir di Lumajang menghadapi dilema. Antok, pengusaha stockpile pasir di Kecamatan Pasirian, mengaku tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi karena permintaan pasar sedang lesu.
Ia hanya menaikkan harga pasir sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per truk agar pelanggan tidak beralih ke daerah lain.
“Kenaikan terjadi mulai 18 April 2026 itu kayake sudah mulai naik. Kenaikan harga solar non-subsidi membuat kerja makin bingung,” ujar Antok.
Dampak kenaikan harga pasir juga mulai dirasakan sektor konstruksi di Lumajang. Achmad Ardiansyah, kontraktor lokal, mengaku harus menaikkan harga batako dan paving sekitar Rp200 per biji akibat melonjaknya harga pasir kualitas super.
Menurut Ardian, harga pasir kualitas terbaik kini naik dari Rp900 ribu menjadi Rp1,1 juta. Meski ada pasir dengan harga lebih murah, kualitasnya dinilai tidak konsisten.
“Memang ada pasir yang naiknya tidak signifikan, tapi kadang dapat barang yang kualitasnya campuran jadi kita ambil yang paling bagus supaya kualitas kita tetap baik,” kata Ardian.
Meski demikian, Ardian mengaku usahanya masih bertahan meski margin keuntungan mulai menurun akibat kenaikan harga bahan baku pasir.
“Kalau sampai rugi belum, tapi tentunya keuntungan pasti berkurang,” pungkasnya.