Malang (Surau.ID) – Jagat maya di Malang dihebohkan dengan beredarnya video ceramah penceramah Ning Sisca Farisa Dhona yang menuding maraknya kasus pencabulan berkedok pondok pesantren di wilayah tersebut. Pernyataan kontroversial yang diunggah melalui akun TikTok pribadinya itu menuai reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Tudingan Generalisasi yang Menuai Polemik
Dalam video ceramahnya, Ning Sisca dengan blak-blakan menyebut adanya banyak kasus pelecehan seksual yang bersembunyi di balik institusi pendidikan Islam di Malang. Ia bahkan menyatakan dukungan terhadap gerakan organisasi yang gencar membongkar praktik amoral tersebut. Menurutnya, tindakan yang menggunakan tameng agama tidak boleh ditoleransi atau ditutupi dengan alasan apa pun, meski pelaku merupakan keluarga atau golongan sendiri.
Pernyataan ini langsung mendapat tanggapan tajam dari Ketua Bidang Pesantren MUI sekaligus Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi, atau yang akrab disapa Gus Fahrur. Ia menyayangkan tudingan tersebut karena dinilai tidak berbasis pada data dan fakta yang valid, sehingga berpotensi menjadi fitnah yang merugikan nama baik institusi pesantren.
Kritik terhadap Etika Berbicara di Publik
Gus Fahrur menekankan pentingnya bagi para penceramah untuk tidak berbicara serampangan di ruang publik. Tudingan generalisasi seperti yang disampaikan Ning Sisca dinilai sangat merugikan ribuan santri, kiai, dan ustaz yang selama ini fokus mendidik generasi bangsa dengan akhlak yang benar. Ia menegaskan bahwa jika memang ditemukan kasus pidana atau kekerasan seksual, pihak terkait seharusnya menyebutkan secara spesifik agar dapat diproses hukum sesuai aturan yang berlaku.
“Jangan karena beberapa oknum lalu seluruh pesantren di Malang digeneralisasi dan diberi cap buruk. Pertanyaannya, berapa jumlah pesantren yang dimaksud? Di mana datanya? Jangan sampai pernyataan yang tidak didukung fakta justru berubah menjadi fitnah dan pembunuhan karakter terhadap lembaga pendidikan Islam,” tegas Gus Fahrur.
Refleksi atas Fenomena ‘Topeng Agama’
Dalam konten viral tersebut, Ning Sisca sempat menyinggung fenomena “topeng agama” sebagai respon atas keberhasilan organisasi Yakuza Maneges mengungkap kasus di Ponorogo. Di sana, seorang pimpinan pondok ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga mencabuli 11 santri laki-laki. Kasus tersebut menjadi cerminan bahwa oknum yang melakukan pelanggaran hukum memang harus ditindak tegas.
Namun demikian, Gus Fahrur meyakini bahwa jumlah pesantren yang bersih dan berintegritas di Malang jauh lebih besar daripada oknum yang bermasalah. Ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi persoalan sensitif ini. Dalam tradisi keilmuan, setiap pernyataan harus didasarkan pada data valid, bukan sekadar asumsi atau sensasi yang justru berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang telah banyak berjasa bagi bangsa ini. Hingga saat ini, pihak Ning Sisca belum memberikan konfirmasi terkait isi ceramah yang memicu polemik tersebut.