Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
13 Juni 2026 | 09:40 WIB
Daerah

KH Ahmad Baidlowi: Sang Pendekar Dakwah dari Tanah Kraksaan

IMG
KH Ahmad Baidlowi (Foto:Ist).

 

PROBOLINGGO (Surau.ID) – Nama KH Ahmad Baidlowi dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Darul Lughah Wal Karomah (DWK) Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Di balik kiprahnya sebagai ulama dan pendidik, ia juga tercatat sebagai pejuang kemerdekaan yang terlibat dalam perlawanan terhadap pasukan Belanda bersama Laskar Sabilillah.

Lahir di Dusun Panggung, Desa Galis, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura, pada 11 Februari 1908, KH Ahmad Baidlowi semasa kecil dikenal dengan nama Ahmad Sibaweh. Sejak usia muda, ia menekuni pendidikan agama sekaligus ilmu bela diri yang kelak membentuk karakter kepemimpinannya.

Pendidikan keagamaannya dimulai dari Kiai Asy’ari sebelum melanjutkan pendalaman ilmu kepada KH Abdul Mun’im, ayah dari KH Zaini Mun’im, pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton. Di saat yang sama, ia juga belajar silat kepada sejumlah pendekar dan ulama pada masanya.

Perpaduan ilmu agama dan kemampuan bela diri menjadikan KH Ahmad Baidlowi sosok yang disegani masyarakat. Setelah menikah dengan Nyai Maisuroh, ia membangun kehidupan keluarga sambil terus mengembangkan aktivitas dakwah.

Terjun ke Medan Perjuangan

Sepulang dari Makkah setelah menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama, KH Ahmad Baidlowi menetap bersama keluarganya. Situasi berubah ketika konflik pascakemerdekaan memanas dan Belanda kembali melancarkan agresi militer.

Pada masa itu, ia bergabung dengan Laskar Sabilillah yang dipimpin KH Zaini Mun’im. Bersama para pejuang lainnya, ia terlibat dalam berbagai perlawanan terhadap pasukan Belanda dan sekutu yang berupaya menguasai kembali wilayah Indonesia.

Kondisi perang memaksanya hidup berpindah-pindah tempat. Demi melindungi keluarganya, ia bahkan menyiapkan tempat persembunyian bawah tanah saat pertempuran berkecamuk di wilayah Malang.

Setelah situasi berangsur stabil, KH Ahmad Baidlowi memilih melanjutkan perjuangan melalui jalur dakwah. Pada awal 1950-an, ia menetap di kawasan Kraksaan dan aktif mengajar agama serta membina masyarakat melalui pencak silat.

Menurut berbagai riwayat, pendekatan tersebut dilakukan untuk membentuk mental dan akhlak masyarakat sekaligus mengurangi budaya kekerasan yang masih terjadi saat itu. Ia menekankan bahwa ilmu bela diri harus digunakan untuk menjaga diri, bukan sebagai sarana menunjukkan kekuatan.

Puncak pengabdiannya terwujud ketika mendirikan surau sederhana di Dusun Kramat, Sidomukti, Kraksaan. Dari tempat itulah kegiatan pendidikan Islam berkembang hingga menjadi Pondok Pesantren Darul Lughah Wal Karomah yang kini dikenal luas.

Nama pesantren tersebut awalnya direncanakan hanya “Darul Lughah”. Atas masukan KH Zaini Mun’im, nama itu kemudian disempurnakan menjadi “Darul Lughah Wal Karomah” dengan harapan membawa keberkahan dan kemuliaan bagi perjuangan dakwah.

Hingga kini, warisan KH Ahmad Baidlowi terus hidup melalui ribuan santri yang menimba ilmu di DWK. Jejak perjuangannya menjadi contoh tentang perpaduan dakwah, pendidikan, kemandirian, dan kecintaan terhadap tanah air.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id