Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
02 Oktober 2026 | 11:11 WIB
Daerah

KHR. Ach. Azaim Ibrahimy : “Sampek Mate, Sampek Odik Pole” Adalah Komitmen Merawat Khidmah

IMG 20261002 WA0047

 

Situbondo (Surau.ID) – Kalimat “sampek mate, sampek odik pole” bukan sekadar ungkapan kesetiaan. Bagi KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D., Ketua Umum Majelis Syuri Pusat IKSASS sekaligus Pengasuh ke-IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, ungkapan tersebut menggambarkan semangat khidmah dan ikatan ruhani seorang santri kepada guru.

Pesan itu disampaikan KHR. Ach. Azaim dalam acara Tasyakuran dan Do’a Bersama HARLAH IKSASS ke-38 yang digelar di Aula Lantai II Pusat IKSASS, Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mengusung tema “Merawat Mahabbah, Menjaga Sanad Perjuangan”.

Bagi KHR. Ach. Azaim, peringatan hari lahir IKSASS bukan hanya tentang mengingat usia organisasi. Momentum tersebut menjadi ruang untuk meneguhkan kembali sanad pengabdian agar para santri dan alumni tetap berada dalam wilayah mahabbah kepada guru-guru.

“Hari ini adalah hari yang terus kita kenang di setiap kalender tahunan. Hari ini adalah hari pengingat dan peneguh sanad pengabdian kita untuk terus berada dalam wilayah mahabbah guru-guru yang mulia,” ujarnya.

Dari momentum itu, KHR. Ach. Azaim mengajak hadirin kembali mengenang sosok Raden Ibrahim, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Ia mengaitkan nama Ibrahim dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS, salah satunya melalui makna Abun Rahimun, yakni sosok ayah yang penuh kasih.

Menurutnya, simbol ketokohan Nabi Ibrahim juga dapat direnungkan melalui peristiwa Isra’ Mi’raj ketika Nabi Muhammad SAW berjumpa dengan Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh.

Nabi Ibrahim disebut berada di Baitul Ma’mur, pusat spiritualitas para malaikat di langit ketujuh yang terhubung dengan Baitullah di bumi. Bagi KHR. Ach. Azaim, gambaran tersebut menyimpan pesan ruhiyah yang penting bagi siapa pun yang menjalankan khidmah.

Ia kemudian membawa pembahasan itu kepada konsep al-ubuwah, atau ketokohan seorang ayah.

“Sejarahnya, fakta kemanusiaan, bahwa tidak ada satu pun nabi dan rasul menjalankan tugas kenabian kecuali dengan pendekatan al-ubuwah sebagai sosok ayah,” katanya.

Nabi Adam disebut sebagai Abul Basyar, Nabi Nuh sebagai ayahanda manusia setelah peristiwa banjir, sedangkan Nabi Ibrahim dikenal sebagai Abul Anbiya. Dari konsep tersebut, KHR. Ach. Azaim mengajak para santri memahami bahwa pewaris perjuangan para nabi dan rasul juga mewarisi tata nilai ketokohan seorang ayah.

Dalam konteks pesantren, nilai tersebut kemudian menemukan bentuknya dalam hubungan guru dan murid.

“Maka Raden Ibrahim adalah ayahanda ruhani kita,” tegasnya.

Para santri dan alumni, lanjutnya, merupakan anak-anak yang lahir dari rahim doa, mujahadah, ajaran, dan dawuh para guru.

“Kita adalah anak-anak yang lahir dari rahim doa-doa beliau, yang lahir dari rahim mujahadah beliau, dari ajaran beliau, dari dawuh-dawuh beliau,” tuturnya.

Bagi KHR. Ach. Azaim, seorang ayah ruhani bukan sekadar figur yang memberikan pengetahuan. Ia juga merupakan pendidik yang menghadirkan kasih sayang, rahmah, dan keteladanan.

Konsep tersebut ia hubungkan dengan pesan Nabi Muhammad SAW:

“Innamā anā lakum bimanzilatil-wālidi u’allimukum.”

“Nabi sudah menegaskan, ‘Aku hanyalah bagi kalian seperti kedudukan seorang ayah. Aku mengajar kalian.’”

Dari sinilah, menurutnya, dikenal konsep al-ubuwah fid-din, yakni ayahanda dalam kehidupan agama. Hubungan tersebut tidak semata dibangun berdasarkan nasab biologis, tetapi melalui kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan.

Guru, kata KHR. Ach. Azaim, tidak selalu mendidik melalui kata-kata. Ada kalanya tindakan sederhana justru menyimpan pelajaran yang jauh lebih dalam.

Ia menyebut prinsip lisānul hāl afshahu min lisānil maqāl, bahwa lisan keadaan terkadang lebih fasih daripada lisan perkataan.

“Kadang-kadang di antara guru kita ada yang nyaris jarang banyak bertutur kata, tetapi lisanul hal-nya mengajarkan ribuan makna kepada kita,” ujarnya.

Keteladanan itu dapat ditemukan dari hal-hal sederhana: keistikamahan membuatkan kopi dan menyangrai jagung untuk para santri, konsistensi membangun para santri, memberikan wejangan, hingga kebiasaan mengelilingi pondok pesantren untuk melihat aktivitas santri pada pagi hari.

Bagi KHR. Ach. Azaim, tindakan-tindakan tersebut bukan sekadar rutinitas. Di dalamnya terdapat pendidikan yang berlangsung tanpa banyak kata.

“Semua itu adalah lisanul hal yang sering kali menjadi lebih fasih daripada lisanul maqāl,” ungkapnya.

Dari keteladanan itulah para guru melanjutkan tugas-tugas mulia kenabian, yakni ta’limul ummah dan ta’limuth-thalabah, mendidik umat dan mendidik para pelajar.

Tujuannya bukan sekadar mencerdaskan pikiran, tetapi menghidupkan hati dan ruh.

KHR. Ach. Azaim menyebutnya sebagai hayātul qulūb, kehidupan hati, dan kehidupan arwah atau jiwa yang menurutnya memiliki dimensi lebih abadi dibandingkan kehidupan jasad.

Dalam konteks itulah ia memaknai ungkapan “sampek mate, sampek odik pole”.

“Boleh. Memang sesuai dengan khidmat para guru-guru kita, bahwa kita bernasab ideologis kepada beliau,” katanya.

Nasab ideologis tersebut bukan hanya tentang hubungan selama hidup di dunia. Lebih jauh, terdapat harapan untuk tetap bersama guru dalam kehidupan akhirat.

“Bukan hanya di dunia, tetapi kita ingin bersama beliau di surga Allah,” lanjutnya.

Karena itu, KHR. Ach. Azaim mengingatkan pentingnya menjaga ikatan tersebut. Bukan hanya ikatan jasmani, tetapi terutama ikatan iman dan ruhani.

“Rawatlah rābithah īmāniyah ini. Rawatlah rābithah rūhiyah ini. Yang jauh melampaui rābithah jasadiyah,” pungkasnya.

Pada akhirnya, “sampek mate, sampek odik pole” tidak berhenti sebagai semboyan. Ia menjadi pengingat bahwa khidmah kepada guru memiliki dimensi panjang: dirawat melalui mahabbah, dibuktikan melalui keteladanan, dan diteruskan melalui perjuangan.

Sebab bagi seorang santri, hubungan dengan guru tidak hanya tentang siapa yang pernah mengajarkan ilmu, tetapi juga tentang nilai apa yang terus hidup setelah pelajaran itu diterima.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id