Surau.ID – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendeteksi 123 titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah tersebut meningkat 24 titik dibandingkan periode pemantauan sebelumnya.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi KLHK, titik panas terpantau melalui pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA hingga Sabtu (20/12/2025) pukul 11.36 WIB. Dari total temuan itu, tujuh titik masuk kategori kepercayaan tinggi, sementara 116 titik lainnya berada pada skala kepercayaan sedang.
KLHK mengklasifikasikan tingkat kepercayaan hotspot ke dalam tiga kategori, yakni rendah dengan rentang nilai 0–29, sedang 30–79, dan tinggi 80–100. Semakin tinggi nilainya, semakin besar potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.

Dilansir Databooks, Sebaran titik panas terbanyak terpantau di Jawa Timur dengan 32 titik. Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara menyusul di posisi berikutnya, masing-masing mencatat 15 titik panas.
Di wilayah lain, Kalimantan Timur terdeteksi sembilan titik panas, disusul Sumatera Selatan dengan delapan titik. Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah masing-masing mencatat tujuh dan enam titik panas.
KLHK menjelaskan, titik panas merupakan indikator awal berupa koordinat dengan suhu permukaan lebih tinggi dibandingkan area sekitarnya, bukan data pasti kejadian kebakaran. Namun, konsentrasi titik panas dalam jumlah besar dan berdekatan pada suatu wilayah dapat menjadi indikasi kuat terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Pemantauan berbasis satelit penginderaan jauh dinilai masih menjadi metode paling efektif untuk mendeteksi dan memantau potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan cakupan area yang luas.