JAKARTA (Surau.ID) – Komisi VIII DPR RI mendorong Kementerian Haji dan Umrah agar mengintegrasikan materi fikih ibadah dalam pembekalan seluruh petugas haji mendatang pada agenda evaluasi Senin (14/9/2026).
Penguatan kapasitas tersebut menjadi perhatian serius karena atribut seragam yang dikenakan para petugas selalu menjadi magnet utama bagi jemaah untuk berkonsultasi mengenai tata cara ibadah.
Di lapangan, para jemaah Tanah Suci kerap tidak membedakan peran antara petugas pelayanan teknis dan pembimbing ibadah. Siapa pun yang mengenakan seragam resmi dianggap menguasai seluruh aturan ibadah.
Kondisi ini menuntut setiap personel memiliki pemahaman dasar agar mampu merespons pertanyaan jemaah secara tepat, ramah, dan solutif tanpa menimbulkan kebingungan saat menjalankan rangkaian ritual haji.
Tantangan Lapangan dan Kesiapan Personel
Evaluasi penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M menunjukkan latar belakang pengalaman para petugas sangat beragam. Sebagian di antara mereka bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci Mekkah.
Meskipun para petugas dapat membaca panduan secara mandiri, bimbingan langsung secara terstruktur dari para ahli tetap menjadi sarana terbaik untuk meningkatkan kualitas pemahaman fikih ibadah secara mendalam.
Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya menilai kesiapan fikih akan membuat pelayanan menjadi lebih komprehensif. Petugas menjadi pihak terdepan yang sigap menenangkan jemaah saat menghadapi keraguan ibadah.
Kesetaraan Pembekalan dan Pelayanan Terbaik
Selain penguatan materi fikih, DPR juga menekankan pentingnya kesetaraan standar pelatihan bagi Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) dan Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) untuk persiapan haji 1448 H/2027 M.
“Saya mendorong agar ada penambahan materi dalam pembekalan, yaitu materi masalah bimbingan ibadah,” ujar Anggota Komisi VIII DPR RI Dini Rahmania.
Langkah pemerataan durasi dan materi pembekalan ini diharapkan mampu menghapus ketimpangan kualitas pelayanan, sehingga seluruh jemaah dari berbagai daerah mendapatkan tingkat perlindungan dan pendampingan yang setara.
Mendampingi para duyufurrahman membutuhkan perpaduan antara kesiapan fisik, mental, dan pemahaman agama yang matang. Pelayanan yang dibekali ilmu akan menjadi pilar utama dalam mengantarkan jemaah meraih haji mabrur.