KRAKSAAN (Surau.ID) – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kraksaan memanfaatkan momentum Ramadan untuk memperkuat soliditas organisasi sekaligus mengevaluasi arah gerakan. Kegiatan buka bersama yang digelar di Saka 9 Pondok Pesantren Nurul Qodim ini dihadiri jajaran pengurus cabang hingga tingkat PAC, Rabu malam (18/03/2026).
Pada kesempatan itu, Ketua PC GP Ansor Kraksaan, Abd. Rahman, menegaskan pentingnya menjaga kekompakan internal agar organisasi tetap mampu merespons kebutuhan umat.
“Silaturahmi ini penting untuk menjaga kekompakan dan menyatukan langkah. Ansor harus tetap kuat secara internal agar bisa menjawab kebutuhan umat,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari penguatan kaderisasi hingga posisi organisasi dalam dinamika politik.
Ketua PCNU Kraksaan, KH. Hafidzul Hakiem Noer, mengingatkan pentingnya menjaga fondasi keikhlasan dalam berkhidmat agar organisasi tidak kehilangan arah.
“Ikhlas dalam berkhidmat itu fondasi. Kalau ini goyah, orientasi gerakan bisa bergeser,” tuturnya.
Nun Hafidz, sapaan akrabnya, juga menyoroti pentingnya memperkuat sistem kaderisasi di semua tingkatan. Menurutnya, proses pengkaderan melalui jenjang seperti PKD, PKL, Diklatsar, hingga Susbalan dan PKN harus berjalan optimal dan terintegrasi.
“Pengkaderan harus diperkuat di semua level. Cabang dan PAC tidak boleh berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa politik dalam tradisi Nahdlatul Ulama bukanlah tujuan utama, melainkan alat perjuangan. Ia mengingatkan agar kepengurusan saat ini tidak terburu-buru masuk dalam politik praktis.

“Politik dalam NU itu alat, bukan tujuan. Kalau dibalik, organisasi bisa kehilangan orientasi pengabdian. Dalam kepemimpinan ini, taruh dulu urusan politik,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan posisi Ansor sebagai penopang ulama dan pesantren. PCNU Kraksaan, kata dia, siap memberikan dukungan penuh terhadap penguatan peran tersebut.
“Ansor harus kokoh sebagai benteng ulama dan pesantren. PCNU siap mendukung sepenuhnya,” lanjutnya.
Lebih jauh, Nun Hafidz mendorong adanya inovasi dalam pengembangan organisasi, termasuk pembentukan PAC berbasis pesantren di lingkungan pesantren besar. Ia menekankan bahwa Ansor merupakan proses kaderisasi berkelanjutan, bukan tujuan akhir.
“Ansor itu proses, bukan terminal akhir. Harus terus melahirkan kader yang naik kelas,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya terobosan baru agar organisasi tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Tidak bisa hanya berjalan seperti biasa. Harus ada inovasi dan langkah baru,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi Ansor Kraksaan untuk meneguhkan arah gerakan sekaligus menyeimbangkan tradisi organisasi dengan tuntutan perubahan zaman.