Di tengah kehidupan digital yang serba mudah namun kerap memicu kegelisahan, Lora Ismail Al-Kholilie mengajak generasi muda belajar memaknai kebahagiaan dengan cara Nabi: membesarkan nikmat dan mengecilkan masalah.
____________________________________
Surabaya (Surau.ID) – Pendakwah muda Lora Ismail Al-Kholilie menyebut peristiwa Isra Mi’raj sebagai nikmat terbesar yang diterima Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, peristiwa tersebut mengajarkan satu pelajaran penting dalam kehidupan manusia: membesarkan nikmat yang kecil dan mengecilkan masalah yang besar.
“Isra Mi’raj itu merupakan nikmat terbesar yang diterima Nabi, karena beliau pertama kali bertemu langsung dengan Allah, namun beliau rela kembali ke dunia yang tidak indah karena perintah Allah,” ujar Lora Ismail dalam kajian Majelis Subuh GenZI (MSG) di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Ahad (18/01/2026). Kajian MSG episode ke-25 tersebut diikuti ratusan generasi Z.
Dalam kajian bertajuk Perjalanan Nabi, Inspirasi GenZI itu, Lora Ismail menjelaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan waktu yang sangat istimewa dalam kehidupan Rasulullah. Ia mengibaratkan pertemuan Nabi dengan Allah sebagai nikmat yang jauh melampaui perayaan pertemuan manusia dengan pasangan hidupnya, yang bahkan dirayakan setiap tahun.
Ia menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, penderitaan kerap hadir karena manusia mengecilkan nikmat yang besar dan membesarkan masalah yang kecil. Fenomena ini, menurutnya, justru semakin nyata di era digital, ketika kehidupan serba mudah tetapi tekanan batin semakin besar.
“Karena manusia di era digital melakukan social comparism (membanding-bandingkan nikmat atau masalah yang dialami dengan orang lain), padahal kehidupan justru semakin mudah, namun kebahagiaan semakin menipis karena melupakan nikmat yang diterima dan membandingkan dengan orang lain,” tegasnya.
Pengasuh Pesantren Al-Muhajirun Salafi Al-Kholili, Bangkalan, itu juga menyinggung konteks sejarah terjadinya Isra Mi’raj. Menurutnya, peristiwa tersebut datang setelah amul huzni atau tahun kesedihan, ketika Rasulullah kehilangan dua sosok tercinta, Abu Thalib dan Khadijah.
“Peristiwa yang dialami Nabi itu menandakan bahwa datangnya ujian itu justru pertanda ada nikmat besar yang akan datang. Bagaikan mendung, sepekat apapun pasti berlalu, hingga turun hujan yang menumbuhkan tanaman. Jadi, ujian itu semakin berat, akan semakin indah di akhir,” ungkapnya.
Ia menambahkan, salah satu inspirasi terbesar dari Isra Mi’raj adalah lahirnya perintah shalat. Baginya, hasil dari sebuah perjalanan yang istimewa tentu bukan perkara biasa.
“Perintah dari perjalanan yang istimewa itu pasti bukan hal biasa, seperti yang diterima Nabi dalam peristiwa Isra Mi’raj, yakni perintah shalat dan menjadi wasiat terakhir Nabi,” tuturnya.
Di akhir kajian, Lora Ismail turut mengapresiasi penyelenggaraan Majelis Subuh GenZI oleh Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Menurutnya, format kajian tersebut memiliki keistimewaan tersendiri karena menggabungkan shalat subuh berjamaah, dzikir, kajian keilmuan, dan ditutup dengan shalat sunnah.
“Jadi, MSG ini sangat exited bagi saya,” pungkasnya.