Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
12 Januari 2026 | 14:15 WIB
Pesantren

Masjid Kayu 1825 dan Jejak Panjang Dakwah Keluarga Mas Su’ud di Situbondo

IMG 20260112 WA0039
Masjid kayu 1825 di Situbondo menjadi bukti sejarah dakwah Kyai Raden Mas Su’ud. (Foto/Dokumentasi Gus Lilur)

 

Situbondo (Surau.ID) – Sebuah bangunan kayu berdiri di Desa Kayuputih, Situbondo, Jawa Timur. Warga setempat kini mengenalnya sebagai langgar atau musala. Namun dua abad lalu, tepatnya pada 1825, bangunan itu merupakan masjid utama sebuah pesantren yang didirikan Kyai Raden Mas Su’ud, ulama tauhid sekaligus tokoh penyebaran Islam di wilayah Tapal Kuda.

Masjid kayu tersebut menjadi salah satu artefak langka Islam abad ke-19 di Situbondo. Di tengah minimnya bangunan ibadah dari periode itu yang masih bertahan, konstruksi kayu masjid ini relatif utuh setelah berusia lebih dari 200 tahun.

Sejumlah sejarawan mencatat, proses Islamisasi di Situbondo menguat pada awal abad ke-19. Penanda utamanya adalah berdirinya pesantren-pesantren berbasis trah Madura dan Sumenep yang memiliki jejaring dengan ulama keraton maupun ulama pengembara.

“Masjid ini saksi hidup dakwah Eyang Kyai Raden Mas Su’ud. Pesantrennya memang tinggal cerita, tetapi masjidnya masih berdiri dan itu bukti sejarah,” ujar Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, cicit Kyai Raden Mas Su’ud.

Kyai Raden Mas Su’ud dikenal sebagai trah keempat Raden Azhar Wongsodirejo atau Bhujuk Sèda Bulangan, bangsawan-ulama asal Sumenep. Nisan makamnya bercorak Pamekasan–Sumenep dan hingga kini masih terawat. Para pemerhati sejarah lokal menilai nisan tersebut sebagai penanda kuat jejaring ulama Madura di Jawa Timur bagian timur.

Menurut Khalilur, yang akrab disapa Gus Lilur, warisan leluhurnya tidak berhenti pada bangunan fisik. “Keturunan Eyang Kyai Mas Su’ud sudah ribuan. Saya memilih tidak hidup di bawah bayang-bayang beliau, tapi membumikan mimpi yang lebih luas,” katanya.

Gus Lilur memperkenalkan gagasan DABATUKA, singkatan dari Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan untuk Kemanusiaan, serta BAKIRA atau Bandar Kyai Nusantara. Ia mengaku memimpikan pembangunan masjid dan pesantren di berbagai negara, termasuk pendirian ribuan pesantren berskala global.

“Mendirikan satu pesantren di Situbondo itu mulia, tapi membangun masjid dan pesantren untuk umat di banyak negara jauh lebih menantang,” ujarnya.

Ia menautkan mimpinya dengan refleksi sejarah ulama Nusantara. Gus Lilur menyinggung Kyai Sholeh Darat Semarang, guru dari pendiri Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang pesantrennya tidak berlanjut secara institusional, tetapi pemikirannya menyebar luas. “Jejak pemikiran lebih panjang dari sekadar bangunan,” katanya.

Gagasan tersebut, menurut Gus Lilur, disandarkan pada kekuatan ekonomi. Ia mengklaim memiliki basis kepemilikan usaha tambang di berbagai komoditas. Sektor pertambangan, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional dan berpotensi menjadi basis filantropi jika dikelola berkelanjutan.

Di tengah cerita masyarakat tentang Masjid Kayuputih yang kerap dikaitkan dengan kisah spiritual, Gus Lilur memilih pendekatan rasional. “Saya berdiri di atas kaki sendiri. Warisan Eyang adalah inspirasi, bukan batas,” tuturnya.

Masjid Kayuputih, yang diyakini sebagai masjid tertua di Situbondo, kini tak sekadar menjadi tempat ibadah. Bangunan itu menjelma penanda sejarah Islam lokal, sekaligus titik berangkat mimpi seorang cicit ulama yang ingin membawa dakwah Nusantara melampaui batas negara.

Penulis: Nurkhaliq BR
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id