Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
21 Februari 2026 | 07:00 WIB
Daerah

Membedah Puasa Sebagai Instrumen ‘Rekayasa Sosial Ilahiyah’ Menuju Peradaban Beradab

IMG 20260221 WA0004
Ketua MUI Kabupaten Probolinggo KH Abdul Wasik Hannan yang tidak berkacamata. (Foto: Surau.ID/Ist)

 

PROBOLINGGO (Surau.ID) – Ibadah puasa seringkali dipandang sebatas ritual vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta. Namun, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo, KH. Abdul Wasik Hannan, menawarkan perspektif yang lebih mendalam: puasa adalah sebuah “rekayasa sosial ilahiyah”.

Menurut Kiai Wasik, puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan desain besar dari Allah SWT untuk merombak karakter individu sekaligus menata struktur sosial agar lebih beradab.

Dalam pandangannya, dimensi spiritual dan sosial dalam puasa adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Melalui rasa lapar dan dahaga, setiap Muslim sedang menjalani “pendidikan rasa” untuk mengasah kepekaan terhadap realitas sosial di sekitarnya.

“Rasa lapar saat berpuasa adalah sebuah refleksi. Kita diajak merasakan apa yang dialami saudara-saudara kita yang serba kekurangan setiap harinya. Dari sinilah lahir empati yang menjadi fondasi kepedulian sosial,” ujar Kiai Wasik.

Ia menekankan bahwa kesadaran yang muncul tanpa paksaan inilah yang nantinya mendorong semangat berbagi di tengah masyarakat, sehingga tercipta ekosistem sosial yang lebih harmonis.

Lebih jauh, Kiai Wasik menyoroti fungsi puasa sebagai instrumen pengendalian diri. Di tengah tantangan zaman yang kian individualis dan materialistik, puasa hadir sebagai rem bagi perilaku destruktif seperti fitnah, korupsi, hingga kebohongan.

Ia menyayangkan jika ritual puasa hanya berhenti pada aspek fisik tanpa menyentuh perubahan perilaku. “Jika saat berpuasa kita masih mudah menyakiti orang lain atau menebar kemarahan, berarti ruh puasa itu belum meresap secara utuh. Puasa itu mendidik lisan, sikap, dan hati,” tegasnya.

Menuju Peradaban Berbasis Akhlak

Kiai Wasik optimis bahwa jika nilai-nilai puasa diinternalisasi dengan baik, dampaknya akan melampaui kesalehan pribadi. Masyarakat akan bertransformasi menjadi komunitas yang menjunjung tinggi keadilan dan saling menghormati.

Baginya, puasa adalah “sekolah kehidupan” yang mencetak manusia-manusia tangguh secara moral. Penutupannya yang lugas mengingatkan bahwa peradaban yang kokoh hanya bisa dibangun di atas fondasi akhlak yang mulia.

“Inilah hakikat dari rekayasa sosial ilahiyah; membentuk karakter individu untuk membangun peradaban yang bermoral,” pungkasnya.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id