JAKARTA (Surau.ID) – Prof R Siti Zuhro memaparkan empat catatan strategis penting mengenai arah kepemimpinan dan kemandirian tata kelola organisasi NU dalam wawancara eksklusif, Kamis (20/8/2026).
Langkah adaptasi struktural ini dinilai krusial agar organisasi tetap kokoh menjaga tradisi keislaman moderat sekaligus menjawab tantangan global yang semakin kompleks di era modern.
Transformasi kelembagaan tersebut berfokus pada penguatan nilai substansial tanpa meninggalkan jati diri historis yang telah menjadi akar kuat perjuangan umat sejak awal kelahirannya.
Secara historis, NU lahir sebagai benteng pertahanan tradisi Islam Nusantara dari ancaman puritanisasi, sekaligus mengusung misi moderasi beragama yang penuh welas asih.
Calon pemimpin masa depan idealnya memiliki kapasitas memperjuangkan perdamaian dunia serta menentang ketidakadilan global secara aktif di panggung internasional.
Struktur sosial warga nahdliyin diibaratkan seperti lidi terikat yang memiliki independensi tinggi, sehingga membutuhkan konsolidasi ekonomi berbasis jaringan koperasi yang kuat.
“Fikrah Nahdliyyah calon ketua umum NU mendatang idealnya memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam memperjuangkan Islam rahmatan lil ‘alamin di panggung dunia global,” ujar Prof R Siti Zuhro.
Penguatan tata kelola berbasis meritokrasi dan transparansi menjadi kunci utama agar umat tidak mudah terbuai penceramah instan, melainkan senantiasa mengedepankan nalar kritis.