Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
02 Juni 2026 | 14:07 WIB
Inspirasi

Meneladani Idealisme Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Keluarga

IMG_018
KH Miftachul Akhyar Mengulas Teladan Nabi Ibrahim (Foto: Surau.ID/Dok. Multimedia KH Miftachul Akhyar).

 

SURABAYA (Surau.ID) – Dalam suasana menjelang momentum Hari Raya Kurban, sosok Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, mengajak umat Islam untuk merefleksikan kembali kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Dalam kajian kitab Syarah Al-Hikam yang diselenggarakan pada Jumat (29/5/2026) di pondok pesantren asuhannya, Kiai Miftah menegaskan bahwa hubungan antara kedua nabi tersebut merupakan potret ideal yang sarat dengan idealisme, ketaatan, dan keikhlasan yang mendalam.

 

Menguji Iman di Balik Perintah Ilahi

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail bukan sekadar catatan sejarah, melainkan ujian berat bagi naluri seorang ayah dan kepatuhan seorang anak. Kiai Miftah menggambarkan betapa sulitnya posisi Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putra satu-satunya, Ismail, yang telah dinanti kehadirannya selama ratusan tahun. Dalam kacamata manusiawi, tidak ada orang tua yang tega melakukan hal tersebut kepada buah hatinya sendiri. Namun, demi menjalankan perintah Sang Khaliq, Nabi Ibrahim mampu menundukkan ego serta perasaannya.

Yang tidak kalah memukau adalah respon Nabi Ismail. Alih-alih memberontak atau menunjukkan keraguan, Ismail justru meyakinkan sang ayah untuk menunaikan perintah tersebut jika memang datangnya dari Allah SWT. Kiai Miftah menyebut momen ini sebagai bentuk langkah yang selaras antara orang tua dan anak, sebuah kesamaan pandangan dan tujuan yang kini sangat sulit ditemukan dalam dinamika keluarga modern.

 

Meneladani Sifat Halim dan Kedewasaan

Dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 101, Allah SWT memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim dengan kelahiran seorang anak yang halim. Kiai Miftah menjelaskan bahwa sifat halim melampaui sekadar kesabaran biasa. Sifat ini mencerminkan seseorang yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya. Keteladanan ini menjadi relevan bagi kehidupan saat ini, di mana egoisme sering kali memicu keretakan dalam hubungan keluarga.

 

Hakikat Kurban: Menyembelih Ego dan Hawa Nafsu

Lebih jauh, Kiai Miftah mengingatkan bahwa ibadah kurban tidak boleh hanya berhenti pada seremoni penyembelihan hewan ternak. Hakikat dari kurban adalah simbolik dalam “menyembelih” berbagai sifat buruk yang mengotori hati manusia. Ia merinci bahwa kurban adalah momentum untuk membuang jauh-jauh sifat kekikiran, kesombongan, riya, hingga kebiasaan mementingkan diri sendiri.

Terutama sifat ujub yaitu merasa diri paling baik dan benar sendiri, menjadi fokus utama untuk disembelih. Melalui kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, umat Islam diajak untuk menyadari bahwa setiap tetesan darah hewan kurban hendaknya seiring dengan upaya menundukkan hawa nafsu. Dengan demikian, kurban menjadi sarana untuk meraih derajat ketakwaan yang sejati, di mana hubungan antara orang tua dan anak tidak lagi didasarkan pada tuntutan materi, melainkan pada komitmen bersama untuk taat kepada Allah SWT.

Penulis: Misbahul A
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id