Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
06 September 2026 | 19:49 WIB
Nasional

Menkes Imbau Warga Batasi Aktivitas di Luar Rumah akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Abu vulkanik krakatau
Abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau di Serang, Banten. {Foto: Antara}

 

JAKARTA (Surau.ID) — Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membatasi aktivitas di luar rumah. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar diminta mengenakan masker dan melindungi mata dengan kacamata.

Melansir laman resmi Kemenkes, imbauan tersebut disampaikan setelah Gunung Anak Krakatau yang berstatus Siaga (Level III) terus mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026). Abu vulkanik terbawa embusan angin hingga mencapai sejumlah wilayah di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Menurut Budi, paparan abu vulkanik dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan, antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kulit. Risiko tersebut perlu menjadi perhatian khusus bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis.

“Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata,” ujar Menkes Budi dalam konferensi pers Situasi dan Kondisi Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau secara daring, Minggu (6/9/2026).

Budi juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menangani abu vulkanik yang mengenai bagian tubuh, terutama mata. Jika partikel abu masuk ke mata, warga diminta tidak menguceknya dan segera membilasnya menggunakan air.

“Kalau debu sudah masuk ke mata, jangan dikucek. Bersihkan dengan air dan bila perlu gunakan obat tetes mata. Semua puskesmas sudah kita siapkan untuk menangani kondisi tersebut,” tegas Budi.

Selain mata, kulit dan pakaian yang terkena abu vulkanik juga perlu segera dibersihkan. Menurut Budi, partikel abu vulkanik memiliki sifat tajam sehingga dapat mengganggu atau mengiritasi bagian tubuh yang terpapar.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus kesehatan akibat erupsi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC), mulai dari tingkat pusat hingga kabupaten/kota yang terdampak.

Dinas Kesehatan di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat juga diminta memastikan puskesmas serta rumah sakit dalam kondisi siaga dan dapat memberikan pelayanan selama 24 jam. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya jumlah warga yang membutuhkan penanganan medis.

Kemenkes turut memastikan ketersediaan dan distribusi logistik kesehatan ke wilayah terdampak. Bantuan tersebut meliputi masker medis dan N95, tabung oksigen serta konsentrator, nebulizer, obat-obatan untuk menangani ISPA, hingga obat tetes dan salep untuk keluhan pada mata dan kulit.

Pemantauan kondisi di lapangan juga dilakukan melalui koordinasi lintas lembaga. Kemenkes bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memperbarui informasi mengenai sebaran abu vulkanik sekaligus memastikan kesiapan layanan kesehatan.

Budi meminta masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menjadikan informasi resmi pemerintah sebagai rujukan utama selama situasi erupsi berlangsung.

“Sekali lagi, jangan panik. Tetap di rumah apabila tidak ada keperluan untuk keluar, gunakan masker dan lindungi mata. Jika mengalami keluhan, segera datang ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” pungkasnya.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id