PAMEKASAN (SURAU.ID) – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, Ning Uswah Hasanah, menjelaskan bahwa kebiasaan santri menata sandal kiai memiliki makna filosofis sebagai latihan mengikuti jejak kebaikan para guru ketika kelak telah dewasa.
Penjelasan tersebut ia sampaikan saat mengisi seminar bertema “Moralitas dan Spiritualitas” di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Putri, Pamekasan, Minggu (1/2/2026).
Dalam pemaparannya, Ning Uswah, yang akrab disapa Ning Uswah Syauqie, mengawali dengan pertanyaan reflektif kepada para santri tentang makna di balik kebiasaan sederhana tersebut.
“Itu tahu tidak ada filosofinya apa ketika ada seorang santri menata sandal kiainya?” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa tindakan kecil itu menyimpan pesan pendidikan jangka panjang bagi kehidupan santri setelah lulus dari pesantren.
“Filosofinya adalah agar kelak, ketika kita dewasa, ketika kita sudah menjadi alumni dari pondok pesantren, kita bisa mengikuti laku jejak kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh guru-guru kita. Diawali dari menata sandal,” terang Ning Uswah.
Menurutnya, menata sandal bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi merupakan bentuk nyata khidmah atau pengabdian kepada guru yang memiliki nilai spiritual dan adab tinggi dalam tradisi pesantren.
“Menata sandal ini adalah suatu khidmah kepada guru,” tegasnya.
Ia menambahkan, khidmah tersebut akan semakin bermakna apabila diiringi kesungguhan dalam menuntut ilmu, baik melalui mengaji, murajaah hafalan, maupun setoran pelajaran kepada guru.
“Apalagi kalau santri tidak hanya khidmah tetapi juga dengan mengaji, juga dengan murajaah, dengan setoran,” lanjutnya.
Ning Uswah menekankan bahwa praktik sederhana itu sejatinya merupakan pendidikan batin bagi seorang santri dalam membangun adab dan keikhlasan.
“Santri menata sandal kiai bukan sekadar rapi-rapi alas kaki. Itu latihan hati. Santri belajar merendahkan ego, menghormati guru, dan menyiapkan langkah, bukan hanya sandal, agar kelak bisa menapaki jejak kebaikan para guru,” tuturnya.
Melalui perpaduan antara pengabdian dan keseriusan belajar, Ning Uswah berharap para santri tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga keberkahan serta kemampuan meneladani akhlak para kiai.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses pendidikan di pesantren sejatinya bertujuan membentuk pribadi santri yang berilmu, beradab, dan mampu melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan para ulama.
“Tujuan akhirnya adalah santri bisa meneruskan kebaikan para guru dalam kehidupan mereka,” pungkasnya.