CIREBON (Surau.ID) – PBNU melalui GKMNU mendorong penerapan pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren guna mencegah kekerasan dan melindungi santri pada Senin (20/7/2026).
Langkah strategis ini diinisiasi untuk merespons dinamika sosial serta membangun ekosistem pendidikan yang lebih ramah, aman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik.
Pemahaman komprehensif mengenai kesehatan reproduksi diharapkan mampu meluruskan berbagai stigma keliru sekaligus membentengi generasi muda dari potensi ancaman kekerasan seksual.
Ketua PBNU Alissa Qatrunnada Wahid menekankan pentingnya edukasi dini agar santri memahami cakupan kesehatan reproduksi secara utuh dan terhindar dari salah persepsi.
Kementerian Kesehatan juga menilai edukasi tersebut sebagai kunci krusial dalam menekan angka kematian ibu serta mencegah stunting secara berkelanjutan.
Pengasuh pesantren menyambut baik inisiatif ini dan menggarisbawahi pentingnya pendampingan langsung bagi remaja yang tengah menghadapi masa pubertas.
“Peran ibu nyai, para kiai, dan pembimbing asrama sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada santri,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Masthuriyah Abdul Barri.
Sinergi berkelanjutan antarpesantren melalui forum berbagi pengalaman sangat diperlukan agar pendekatan pencegahan dapat diterapkan secara efektif sesuai karakteristik masing-masing lembaga.