JAKARTA (Surau.ID) – Presiden Prabowo Subianto menyinggung adanya sosok pemimpin pengkhianat yang menganjurkan tindakan provokatif “bakar-bakar” setelah mengalami kekalahan dalam kontestasi politik, saat acara puncak Hari Koperasi Nasional di Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Pernyataan tersebut memicu berbagai analisis dari pakar komunikasi politik mengenai siapa sosok yang dimaksud. Sejumlah pengamat menilai sulit untuk menebak figur spesifik, mengingat mayoritas partai politik kini telah bergabung dalam koalisi pemerintahan Prabowo.
Analisis pakar mengarah pada kemungkinan adanya pihak luar atau aktor non-partai yang merasa terganggu dengan gaya pemerintahan saat ini. Pernyataan tersebut dipandang sebagai retorika nasionalis-populis untuk menjaga stabilitas nasional dari ancaman provokasi.
Bukan Merujuk pada Partai Politik
Pakar komunikasi politik UGM, Profesor Nyarwi Ahmad, menilai tidak mungkin sosok yang dimaksud adalah mantan pasangan capres-cawapres kompetitor Prabowo maupun pimpinan partai politik. Ia mencatat bahwa para mantan kandidat kini cenderung pasif dan tidak melontarkan narasi provokatif.
Pandangan serupa disampaikan pakar politik Hendri Satrio (Hensat), yang menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak ditujukan kepada PDIP. Hubungan personal yang baik antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Prabowo menjadi dasar penilaian bahwa PDIP bukanlah sasaran dari tudingan tersebut.
“Megawati dan Pak Prabowo itu bersahabat baik. Jadi menurut saya itu bukan omongan Pak Prabowo untuk PDIP Perjuangan,” ungkap Hendri Satrio.
Urgensi Keamanan Nasional
Para pakar menduga bahwa narasi “pemimpin pengkhianat” mungkin merujuk pada elemen oligarki atau pihak lain yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan pemerintah saat ini, meskipun sosoknya masih bersifat abstrak.
Pernyataan Prabowo dianggap sebagai peringatan keras agar kontestasi politik tidak berakhir dengan tindakan destruktif. Publik diminta menyerahkan persoalan ini kepada pihak keamanan guna memastikan stabilitas demokrasi tetap terjaga.
Langkah Prabowo yang selama ini cenderung merangkul berbagai elemen politik dinilai sebagai strategi untuk meminimalisasi konflik. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa loyalitas terhadap kepentingan nasional harus tetap di atas ambisi politik pribadi bagi siapa pun yang memimpin di Indonesia.