MALANG (Surau.ID) – Memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) 2026, puluhan aktivis yang tergabung dalam Komite Aksi IWD Malang menggelar unjuk rasa damai di sepanjang koridor Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu (8/3/2026) sore.
Massa yang berjumlah sekitar 100 orang tersebut mulai memadati kawasan jalanan protokol sejak pukul 15.00 WIB. Di bawah koordinasi Eko Cahyono selaku koordinator lapangan (Korlap), aksi ini membawa empat tuntutan utama: menolak femisida, menolak kontrol atas tubuh perempuan, menuntut kesetaraan akses kerja, serta mendesak peningkatan ruang aman bagi perempuan di ranah publik maupun privat.
Aksi dimulai dengan orasi di kawasan Patung Chairil Anwar, Jalan Jend. Basuki Rahmat (Kayutangan). Dalam orasinya, massa menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terbatas pada tindakan fisik yang brutal seperti femisida pembunuhan berbasis gender tetapi juga hadir dalam bentuk yang lebih subtil dan tersembunyi.
“Kekerasan sering kali menyusup ke dalam relasi sosial, ekonomi, dan budaya yang membentuk pengalaman hidup perempuan. Ia tidak selalu tampak sebagai luka fisik, namun terasa dalam ketidakadilan sistemik,” ujar salah satu orator di atas mobil komando.
Soroti Beban Ganda dan Upah Murah di Gedung Dewan
Massa kemudian melakukan long march menuju Gedung DPRD Kota Malang di Jalan Tugu. Di depan gedung wakil rakyat tersebut, Komite Aksi IWD menyoroti ketimpangan ekonomi yang mencekik kaum perempuan. Mereka menilai, rendahnya upah dan minimnya perlindungan kerja bagi buruh perempuan adalah bentuk eksploitasi yang nyata.
Dalam pernyataan sikapnya, Komite Aksi menjelaskan bahwa perempuan sering kali terjebak dalam beban kerja ganda mengurus domestik sekaligus bekerja di ruang publik tanpa dukungan struktur sosial yang memadai.
“Femisida adalah puncak gunung es, sementara eksploitasi ekonomi di tempat kerja adalah fondasi kekerasan yang berlangsung sehari-hari. Keduanya berakar pada mekanisme yang sama: upaya mengontrol tubuh dan tenaga perempuan dalam struktur patriarki yang timpang,” tegas Eko Cahyono dalam orasinya.
Aksi yang berlangsung hingga pukul 18.00 WIB ini juga mengkritisi kecenderungan masyarakat yang sering menormalisasi kekerasan terhadap perempuan sebagai “kodrat” atau hal yang biasa. Normalisasi inilah yang dinilai membuat perlindungan hukum dan sosial sering kali gagal menyentuh akar persoalan.
Aksi ini ditutup dengan tertib setelah massa menyampaikan aspirasinya. Komite Aksi IWD Malang menegaskan bahwa gerakan ini adalah bentuk solidaritas untuk mendorong negara dan masyarakat agar lebih serius dalam menciptakan ruang yang aman dan setara bagi seluruh perempuan.