MAROS (Surau.ID) – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat DDI Maros, Sulawesi Selatan, menggelar dialog sejarah bertajuk Napak Tilas Islamisasi di Sulawesi Selatan di Langgar Al-Khidir, Maros, pada Rabu (3/6/2026). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Haul Akbar Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman Al-Madani dan Syaikh Yusuf Al-Makassari. Diskusi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam sejarah panjang penyebaran agama Islam di wilayah Sulawesi Selatan melalui pendekatan dakwah dan keteladanan ulama.
Dialog ini menghadirkan Mursyid Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah ke-46, Syaikh Irsan bin Abdul Rauf Al-Makassary, sebagai pembicara utama. Selain itu, hadir pula Fardy Ali Syahdar dan Muhazi Ramadhan sebagai narasumber yang mengulas secara komprehensif mengenai peran strategis para ulama dalam membentuk tradisi keagamaan masyarakat Bugis-Makassar. Kegiatan yang diikuti oleh puluhan mahasiswa dan kader PMII ini berlangsung interaktif, mencerminkan tingginya antusiasme generasi muda terhadap narasi sejarah keislaman di tanah kelahirannya.
Koordinator Kaderisasi PMII Komisariat DDI Maros, Muh. Ansar Rahman, menyatakan bahwa agenda ini merupakan ikhtiar nyata untuk merawat ingatan kolektif generasi muda terhadap jasa para ulama dalam proses islamisasi di kawasan timur Indonesia. Baginya, memahami sejarah bukan sekadar membahas peristiwa masa lampau, melainkan upaya menyambung sanad perjuangan serta memperkuat akidah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah gempuran arus informasi global.
Ansar menambahkan bahwa di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, generasi muda dituntut memiliki pijakan historis yang kuat agar tidak tercerabut dari akar tradisi dan identitas keislamannya. “Melalui dialog ini, kami berharap kader PMII dan generasi muda dapat memahami bagaimana Islam disebarkan dengan pendekatan yang damai, bijaksana, dan sangat menghargai kearifan budaya lokal. Dari sejarah itulah kita belajar mengenai pentingnya dakwah yang menyejukkan dalam membangun peradaban,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, para narasumber menegaskan bahwa penyebaran Islam di Sulawesi Selatan tidak terlepas dari jejaring pendidikan dan pembinaan masyarakat yang dibangun oleh para dai serta tokoh tarekat. Mereka tidak hanya mengajarkan ajaran tauhid, tetapi juga membentuk karakter sosial masyarakat yang luhur dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam tatanan budaya lokal. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membumikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
PMII Komisariat DDI Maros berkomitmen untuk terus membuka ruang diskusi serupa sebagai bagian dari ikhtiar menjaga warisan intelektual dan spiritual para pendahulu. Dengan membedah sejarah dakwah, perkembangan tarekat, serta kontribusi ulama, diharapkan kader PMII mampu mengambil ibrah atau pelajaran penting untuk diterapkan dalam gerakan kemahasiswaan saat ini, yakni memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan secara seimbang.