JAKARTA (Surau.ID) – Puluhan ribu jamaah memadati Masjid Istiqlal dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang digelar dengan nuansa kebangsaan dan keberagaman. Momentum religius tersebut diposisikan bukan hanya sebagai refleksi spiritual, tetapi juga sebagai ruang untuk menegaskan peran nilai-nilai Al-Qur’an dalam memperkuat persatuan dan peradaban bangsa.
Ketua Panitia Nuzulul Qur’an Masjid Istiqlal, H. Mas’ud Halimin, menjelaskan bahwa tema yang diangkat dalam peringatan tahun ini menekankan pentingnya nilai Al-Qur’an sebagai pengikat keberagaman Indonesia.
“Alasan kami mengambil tema Nuzulul Qur’an ‘Jembatan Peradaban Harmoni’ karena kami meyakini bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan peradaban, tradisi dan budaya,” jelasnya.
Menurut dia, nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci tersebut diharapkan mampu menjadi inspirasi untuk membangun masa depan bangsa yang lebih kuat.
“Kita berharap nilai-nilai Al Qur’an bisa menjadi semangat dan ruh yang bisa menjadikan Indonesia sebagai negara peradaban yang besar,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, panitia juga meluncurkan program wakaf mushaf Al-Qur’an Iluminasi Tionghoa dengan target distribusi mencapai 100 ribu mushaf ke berbagai daerah di Indonesia. Hingga saat ini, sekitar 3.200 mushaf telah terkumpul untuk disalurkan ke berbagai wilayah.
Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal juga menampilkan keterlibatan berbagai komunitas, termasuk kerja sama dengan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Kehadiran komunitas tersebut menjadi simbol bahwa nilai Al-Qur’an dapat menjembatani beragam latar belakang budaya di Indonesia.
Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Dr. H. Serian Wijatno, menilai momentum tersebut menunjukkan bahwa pesan Al-Qur’an mampu melampaui perbedaan yang ada di masyarakat.
“Peringatan Nuzulul Qur’an malam ini memperlihatkan bahwa Al Qur’an mampu melewati batas-batas perbedaan dan menjadi jembatan peradaban harmoni lintas kebudayaan, termasuk kebudayaan muslim Tionghoa dan Nusantara,” ujarnya.
Ia juga menyebut Masjid Istiqlal sebagai simbol penting dari pertemuan berbagai identitas budaya dalam bingkai keislaman dan kebangsaan.
Sementara itu, Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, mengajak jamaah untuk kembali memahami sejarah penyebaran Islam yang erat dengan peran Al-Qur’an.
“Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa salah satu agama yang paling cepat berkembang di dunia adalah Islam, itu karena Al Qur’an,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa hubungan budaya Tionghoa dengan Nusantara telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Acara peringatan tersebut juga diisi dengan pertunjukan seni lukis pasir yang menggambarkan relasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Pertunjukan itu menghadirkan refleksi visual tentang bagaimana kebudayaan dan agama dapat berjalan beriringan dalam membangun harmoni sosial.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ketua KPU RI, Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat yang mewakili Wakil Gubernur DKI Jakarta, serta Asisten Kesejahteraan Rakyat Provinsi DKI Jakarta yang hadir mewakili Gubernur DKI.
Di pelataran Masjid Istiqlal, suasana terlihat penuh antusiasme. Banyak jamaah tampak mengabadikan momen dengan berswafoto sambil memegang mushaf Iluminasi Tionghoa yang dibagikan dalam acara tersebut.
Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal tahun ini tidak hanya menjadi agenda keagamaan semata. Acara tersebut juga menjadi pesan kuat bahwa nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi landasan untuk membangun harmoni, memperkuat persatuan, serta merawat keberagaman dalam kehidupan berbangsa.