JAKARTA (Surau.ID) — Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, meminta seluruh pihak menjadikan peristiwa pembubaran kegiatan ibadah di Bantul sebagai pelajaran penting dalam menjaga kerukunan umat beragama. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak boleh kembali terjadi di masa mendatang.
“Itu merupakan tantangan yang harus kita hadapi dan lewati bersama. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” tegasnya, mengutip Kemenag.
Menurut Nasaruddin, pemerintah melalui Kementerian Agama terus mendorong penyelesaian setiap persoalan keagamaan secara cepat dan tepat agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Kementerian Agama berupaya agar setiap persoalan yang muncul dapat diselesaikan secara tepat dan cepat. Itulah semangat yang ingin kita bangun saat ini, yaitu tidak membiarkan persoalan tanpa penyelesaian,” ungkapnya.
Ia menilai penyelesaian masalah melalui dialog dan langkah-langkah persuasif jauh lebih penting daripada membiarkan perbedaan berkembang menjadi gesekan sosial. Karena itu, Kementerian Agama terus memperkuat upaya pencegahan dan mediasi dalam berbagai persoalan keagamaan yang muncul di daerah.
Selain itu, Menag menegaskan bahwa tindakan yang mengarah pada kekerasan maupun anarkisme tidak memiliki tempat dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, setiap persoalan harus diselesaikan dengan cara-cara yang menjunjung hukum, etika, dan semangat kebersamaan.
“Terkait keributan dan tindakan yang mengarah pada anarkisme dalam peristiwa tersebut, tentu tidak ada pihak yang menyukai hal-hal seperti itu,” tegasnya.
Menutup keterangannya, Nasaruddin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan dialog, saling memahami, dan memperkuat persaudaraan sebagai fondasi menjaga harmoni kehidupan berbangsa.
“Saya berharap masyarakat dapat menyelesaikan setiap perbedaan secara damai sehingga kerukunan antarumat beragama di Indonesia tetap terjaga,” pungkasnya.