TANGERANG SELATAN (Surau.ID) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan rekayasa material fungsional berbasis kimia molekuler untuk menghadirkan inovasi di bidang kesehatan, industri, dan lingkungan. Melalui riset yang berkelanjutan, BRIN mendorong lahirnya material inovatif yang siap diterapkan serta mampu meningkatkan daya saing industri nasional.
Kepala Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Roni Maryana, mengatakan pengembangan material fungsional memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan teknologi sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
“Kami berupaya mengembangkan material inovatif yang mendukung kemajuan di bidang kesehatan, industri, dan lingkungan sekaligus mendorong terciptanya material yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Menurut Roni, BRIN juga berharap kegiatan webinar yang digelar mampu memperluas pemahaman masyarakat dan kalangan peneliti mengenai perkembangan terbaru di bidang rekayasa material.
“Melalui riset yang berkesinambungan dan kolaborasi dengan berbagai mitra, pengembangan material fungsional diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang siap dihilirisasi sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat, meningkatkan daya saing industri nasional, serta memperkuat ekosistem riset dan inovasi Indonesia,” harapnya.
Inovasi Material untuk Bidang Kesehatan
Dalam webinar tersebut, peneliti pascadoktoral Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Annisa Indah Reza, memaparkan hasil pengembangan nanopartikel emas sebagai material biosensor yang memiliki sensitivitas, stabilitas, dan selektivitas tinggi dalam mendeteksi biomolekul maupun senyawa tertentu.
Teknologi tersebut berpotensi mendukung pengembangan perangkat diagnosis yang lebih cepat, sederhana, dan andal. Selain sektor kesehatan, biosensor berbasis nanopartikel emas juga dapat dimanfaatkan untuk keamanan pangan serta pemantauan kualitas lingkungan.
Peneliti lainnya, Monica Lestari, menjelaskan pengembangan rekayasa struktur kristal obat (crystal engineering) guna menghasilkan solid solution farmasi. Pendekatan ini memungkinkan dua atau lebih senyawa membentuk satu struktur kristal homogen sehingga dapat memperbaiki sifat fisikokimia obat tanpa mengubah aktivitas farmakologinya.
Sementara itu, Haya Fathana memperkenalkan hasil riset yang memanfaatkan limbah ampas kopi Gayo sebagai bahan penyusun film komposit berbasis kitosan yang lebih ramah lingkungan.
Melalui penelitian tersebut, tim peneliti mengkaji berbagai karakteristik fisik dan kimia material untuk mengevaluasi kekuatan, stabilitas, serta sifat fungsionalnya. Hasil kajian diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan limbah organik menjadi material bernilai tambah sekaligus mendukung pengembangan teknologi yang lebih berkelanjutan.