PROBOLINGGO (Surau.ID) — Perbaikan layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan, tak hanya tercermin dari hasil evaluasi teknis. Di balik itu, ada cerita sederhana yang justru menyentuh: selembar kertas lusuh dari seorang siswa, ditemukan di dalam ompreng oleh karyawan dapur.
Dalam kertas itu tertulis polos, tanpa banyak tanda baca: “Sumpah ini enak banget. Sukak banget sama MBG. Sekarang, lop lop (love-love) banyak-banyak.” Tulisan tangan yang belum rapi, dengan ejaan sederhana, justru menjadi penanda paling jujur dari penerima manfaat.
Bagi para petugas dapur, catatan itu bukan sekadar pesan. Ia menjadi penguat bahwa upaya perbaikan yang dilakukan selama ini mulai terasa langsung oleh anak-anak.
Cerita serupa juga terlihat di media sosial. Sejumlah warga menyampaikan kesan positif terhadap menu MBG yang disajikan SPPG Opo-opo.
“Terima kasih untuk menu tadi pagi. Semuanya senang dan suka, semoga besok juga menyenangkan,” tulis salah satu warga.

Komentar lain lebih singkat, tapi lugas: “Enak min.”
Ada pula guru yang ikut merasakan dampaknya, “Mantap yang ini pak, murid saya suka semua. Terima kasih.”
Respons-respons itu menjadi cerminan perubahan yang perlahan terbangun pasca evaluasi. Jika sebelumnya program ini sempat mendapat sorotan, kini mulai berbalik menjadi ruang apresiasi.
Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPG Krejengan, Sri Rohayu, sebelumnya menegaskan bahwa proses evaluasi memang dijadikan pijakan utama untuk pembenahan.
“Kami terus berbenah. Masukan dari audit dan masyarakat menjadi dasar perbaikan agar layanan MBG semakin baik dan tepat sasaran,” ujarnya.
Di tingkat lapangan, komitmen itu kini tak hanya terukur dari standar gizi atau sistem distribusi, tetapi juga dari hal-hal kecil yang sering luput dari laporan resmi—seperti sepucuk kertas dalam ompreng.
Bagi SPPG Opo-opo, mungkin inilah indikator paling sederhana sekaligus paling jujur: ketika anak-anak tidak hanya menerima, tetapi juga merasa senang dan ingin lebih.