BANDUNG (Surau.ID) — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti pentingnya penguasaan embedded electronic technology dalam pengembangan sistem deteksi dan akustik bawah air sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan maritim Indonesia. Melalui Pusat Riset Elektronika, Organisasi Riset Elektronika dan Informatika, BRIN menggelar SISTEM (Sharing Ilmiah Sains dan Teknologi Elektronika serta Manfaatnya) Volume 1 Tahun 2026 pada Mei 2026 dengan tema Prospek Embedded Electronic Technology pada Pengembangan Sistem Deteksi dan Akustik Bawah Air.
Melansir kanal YouTube BRIN Indonesia, Kepala Pusat Riset Elektronika BRIN, Prof. Yusuf Nur Wijayanto, menegaskan bahwa teknologi akustik bawah air memiliki peran penting dalam menjawab tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan.
“Penguasaan teknologi akustik bawah air menjadi kunci utama untuk memahami kondisi perairan yang tidak dapat dijangkau secara visual sekaligus membuka peluang riset dan inovasi yang luas di bidang kemaritiman,” ucap Kepala Pusat Riset Elektronika BRIN, Prof. Yusuf Nur Wijayanto, secara daring pada Selasa (26/5) melalui Zoom Meeting.
Menurutnya, kebutuhan terhadap teknologi deteksi bawah air semakin mendesak seiring meningkatnya tantangan menjaga kedaulatan wilayah laut, keamanan maritim, serta pemanfaatan sumber daya bawah laut. Teknologi ini memungkinkan sistem deteksi bekerja lebih presisi, tangguh, hemat energi, dan mampu beroperasi dalam kondisi bawah air yang kompleks seperti tekanan tinggi, perubahan suhu, hingga karakter rambatan gelombang suara.
Penting untuk Ketahanan Maritim
Yusuf menjelaskan bahwa Indonesia membutuhkan penguasaan teknologi embedded electronics dan sistem akustik bawah air secara mandiri karena letak geografisnya yang strategis sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
“Teknologi bawah air bukan lagi sekadar pilihan, melainkan telah menjadi pilar pertahanan dan ketahanan nasional yang harus dikuasai secara mandiri. Tantangan geografis Indonesia menuntut solusi teknologi yang mampu bekerja secara mandiri, berukuran ringkas, hemat daya, namun memiliki kemampuan pemrosesan data yang tinggi langsung di lingkungan bawah air,” tuturnya.
Ia menilai, pengembangan teknologi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertahanan nasional, tetapi juga penting dalam pemantauan lingkungan laut dan pengelolaan sumber daya kelautan.
Peluang Besar Riset Inovasi
Selain aspek keamanan, BRIN juga melihat fenomena akustik bawah air sebagai ruang riset strategis yang berpotensi melahirkan inovasi baru, kekayaan intelektual, dan produk teknologi elektronika aplikatif.
Yusuf menegaskan bahwa forum SISTEM menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pemahaman publik dan membangun kolaborasi lintas sektor.
“Pengenalan teknologi ini melalui forum SISTEM dengan tagline Electronic Technology for Underwater Applications dinilai sebagai langkah strategis untuk membangun kesadaran, menyamakan persepsi, serta memicu kolaborasi lintas sektor dalam memenuhi kebutuhan teknologi deteksi bawah air yang mandiri bagi Indonesia,” imbuh Yusuf.
BRIN telah menggagas kegiatan SISTEM sejak 2022 sebagai wadah berbagi ilmu lintas Kelompok Riset di bawah Pusat Riset Elektronika. Pada Volume 1 Tahun 2026, BRIN menilai tema teknologi deteksi dan akustik bawah air sangat relevan dengan kebutuhan penguatan teknologi maritim nasional.
Melalui forum ini, BRIN berharap riset teknologi elektronika strategis dapat berkembang lebih luas, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat kolaborasi lintas institusi, dan memperluas pemahaman publik tentang pentingnya inovasi berbasis riset.
“Ke depan, kegiatan SISTEM akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan tema-tema strategis lainnya, sejalan dengan komitmen BRIN dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional,” pungkasnya.