TRENGGALEK (Surau.ID) – Ribuan warga memadati Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, untuk mengikuti puncak tradisi Lebaran Ketupat yang digelar dengan pawai tumpeng ketupat dan peragaan busana kreasi, Sabtu (28/3/2026).
Kegiatan dimulai sekitar pukul 07.30 WIB dengan doa bersama dan pelepasan peserta pawai oleh pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan, KH Abdul Fattah Muin. Acara tersebut turut disaksikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, bersama istrinya, Arumi Bachsin.
Peserta pawai membawa beragam tumpeng ketupat yang dihias dengan aneka lauk dan hasil bumi. Arak-arakan tersebut bergerak menuju lapangan Durenan sebelum memasuki prosesi “purak”, yakni perebutan tumpeng oleh masyarakat.
Antusiasme warga terlihat sejak pagi hingga siang hari. Kepadatan terjadi di jalur utama Durenan-Pogalan serta sejumlah ruas jalan desa di sekitar lokasi perayaan.
Lebaran Ketupat di Trenggalek telah berlangsung lebih dari 200 tahun dan berakar dari tradisi Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan.
Tradisi ini bermula dari kebiasaan KH Imam Mahyin yang menjalankan puasa Syawal selama enam hari setelah Idulfitri, kemudian menggelar silaturahmi pada hari ketujuh dengan menyajikan ketupat dan sayur lodeh kepada masyarakat.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang dari lingkungan pesantren ke masyarakat luas, khususnya di Kecamatan Durenan, sebelum meluas ke wilayah lain seperti Kecamatan Trenggalek dan Gandusari.
Saat ini, perayaan Lebaran Ketupat digelar di berbagai desa, dengan Durenan tetap menjadi pusat kegiatan.
Selain menjadi ajang silaturahmi, tradisi ini juga berperan sebagai daya tarik budaya yang mendorong aktivitas ekonomi warga dan menarik kunjungan wisatawan lokal.