JAKARTA (Surau.ID) – Perwakilan UNICEF untuk Indonesia Maniza Zaman mengapresiasi implementasi Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta Kementerian Agama pada Senin (20/7/2026).
Inovasi pendidikan keagamaan ini dinilai memberikan dampak positif bagi guru serta peserta didik dalam mewujudkan sistem pembelajaran yang inklusif dan berkelanjutan.
Pertemuan strategis di kantor pusat Kementerian Agama tersebut juga memperkuat komitmen bersama dalam isu perlindungan anak dan penguatan ekosistem pendidikan.
Maniza Zaman mengusulkan penguatan kerja sama melalui perluasan Madrasah dan Pesantren Ramah Anak, serta pemanfaatan pembiayaan sosial syariah.
Dukungan terhadap aksi iklim dan pelindungan lingkungan melalui pendekatan ekoteologi juga menjadi fokus utama kemitraan jangka panjang antara kedua belah pihak.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa transformasi pendidikan bertumpu pada integrasi Tauhid, Logos, Ethics, dan Ethos untuk mengubah cara berpikir peserta didik.
“Kita ingin pendidikan melahirkan manusia yang mencintai sesama, menghargai perbedaan, dan menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab kepada Tuhan,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Melalui buku panduan resmi yang telah disusun, Kementerian Agama terus mengoptimalkan sinergi pelestarian alam dan perlindungan santri guna melahirkan generasi berakhlak mulia.