REMBANG (Surau.ID) – Mustasyar PBNU KH Ahmad Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) mengajak para jamaah untuk memuliakan orang alim dengan cara mengkaji karya-karya ilmiah mereka, bukan sekadar membanggakan garis keturunan atau nasab semata.
Pesan tersebut disampaikan dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Haul Masyayikh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin yang diselenggarakan di Desa Leteh, Rembang, Jawa Tengah, pada Selasa malam, 18 Agustus 2026.
Dalam pengajian kitab Al-Ibriz yang disiarkan melalui kanal YouTube GusMus Channel tersebut, Gus Baha menekankan pentingnya meneladani keilmuan para ulama terdahulu agar generasi penerus tidak hanya mengandalkan status ketokohan tanpa diimbangi kapasitas ilmu yang memadai.
Tradisi Keilmuan dan Validitas Tafsir Al-Ibriz
Gus Baha juga menguraikan validitas Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Musthafa yang dikenal memiliki kedalaman makna, ketepatan pemilihan terjemahan bahasa, serta memiliki ketersambungan sanad keilmuan yang jelas dari para guru terkemuka.
Menurutnya, ketekunan Mbah Bisri dalam menelaah rujukan klasik seperti Tafsir Jalalain dan Tafsir Shawi menunjukkan kualitas keilmuan yang matang hasil dari ketekunan belajar kepada ulama ahli tata bahasa Arab asal Rembang, KH Kholil Harun.
Meneladani Ketulusan dan Sikap Rileks Para Ulama
Selain mengkaji karya tulis, pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narikan ini juga mengenang didikan sang ayah, KH Nursalim, yang mengajarkan pentingnya keikhlasan dalam mengajar serta bersikap wajar dan rileks terhadap urusan dunia.
Melalui tradisi pengajian rutin dan penelaahan kitab secara mendalam, diharapkan masyarakat dapat meneruskan warisan intelektual para masyayikh dengan landasan ilmu yang kokoh serta akhlak yang mulia.