Yogyakarta (Surau.ID) – KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menekankan pentingnya menjaga keilmuan hadis dan tafsir agar tidak menimbulkan kebingungan umat. Hal ini disampaikan dalam ceramahnya yang tayang di kanal YouTube NU Online, Jumat (26/12/2025). Beliau menyampaikan pengalaman pribadi dan pelajaran penting terkait praktik wirid dan pengajaran agama.
Gus Baha membuka ceramah dengan kisah pengalaman pribadinya saat belajar wirid dengan beberapa ulama.
“Saya sering komplain sama beberapa orang saleh. Saya komplain betul. Dia itu ngijazahi saya wiridan lā ilāha illallāh panjang, terus ruwet. Saya enggak hafal-hafal. Saya dimarahin, ‘Gus, kamu itu cerdas, kok ini enggak hafal-hafal?’ Saya bilang, ‘Memang sengaja enggak saya hafalkan.’ Yang ada tambahan-tambahannya itu,” ujarnya.
Beliau menjelaskan bahaya menambahkan jumlah pengucapan dalam hadis. “Di antara perlawanan ahli hadis adalah kalau hadis itu ditambahi. Misalnya, man qāla lā ilāha illallāh mi’ata marratin dakhala al-jannah. Jadi kalau bapak kamu meninggal baru baca lā ilāha illallāh 50 kali, wah sayang, tidak sampai 100 sudah mati. Itu jadi berkahnya ada hitungan. Padahal hadisnya enggak begitu. Hadisnya hanya man qāla lā ilāha illallāh dakhala al-jannah. Jangan kamu tambahi mi’ata marratin. Jangan kamu tambahi sekian-sekian. Itu bahaya,” ucap Gus Baha mengingatkan.
Gus Baha juga menyoroti tambahan yang dapat menimbulkan keresahan umat. “Sehingga ketika ada hadis man kāna ākhiru kalāmihi lā ilāha illallāh dakhala al-jannah, lalu ditambahi ‘akhir kalam’. Ini bikin keresahan,” paparnya.
Gus Baha juga menekankan penghargaan terhadap ilmu fardu ain yang dilakukan kiai kampung.
“Saya ini berkeyakinan, saya kalah hebat sama kiai-kiai kampung. Saya sering bilang ke kiai kampung, ‘Kamu lebih hebat dari saya.’ Kenapa? Saya ngajar tafsir Munir, tafsir Thabari, itu enggak fardu ain. Kamu di kampung ngajari madin, ngajari Aqaid Khamsin, itu fardu ain. Ganjaran fardu ain lebih besar dari fardu kifayah,” ungkapnya.
Beliau juga membahas pengalaman dengan masyarakat miskin, yang menurutnya memiliki potensi pahala besar karena tindakan mereka sering terkait urusan nyawa dan kebutuhan nyata.
“Makanya saya dulu berpikir, kenapa orang miskin masuk surga lebih dulu 500 tahun? Karena orang miskin pinjamannya urusan nyawa. Sekali menolong temannya itu urusan nyawa. Kalau orang kaya, nganter rumah sakit kadang buat ke salon, penyakit kulit. Enggak penting-penting. Surganya lambat karena yang dilakukan sering enggak penting,” jelasnya.
Gus Baha mencontohkan bagaimana ia membimbing umat agar bijak menghadapi harta dan kekayaan.
“Saya pernah didatangi ibu-ibu miskin, ‘Gus, doain saya kaya.’ Saya bilang, ‘Kamu siap kalau suami kamu kaya?’ Nanti yang dievaluasi kamu. Rumah bagus, mobil bagus, istrinya kok begini. Akhirnya bilang, ‘Sudah Gus, enggak jadi.’ Alhamdulillah sampai sekarang miskin dan syukur karena berkahnya ilmu,” tutur Gus Baha menceritakan.