JEMBER (Surau.ID) – Inovasi teknologi mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) kembali hadir untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Himpunan Mahasiswa Vokasi Elektronika Universitas Jember (HMVE UNEJ) meluncurkan SIPKOM (Smart Feeder Inovatif Penggerak Kolam Mandiri), sebuah teknologi otomatisasi pemberian pakan ikan yang dikembangkan melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA).
Peluncuran sekaligus penyerahan perangkat smart feeder kepada masyarakat digelar di Kantor Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Kamis siang, 27 Agustus 2026.
SIPKOM dirancang untuk membantu pembudidaya ikan mengatasi persoalan pemberian pakan yang selama ini masih dilakukan secara manual. Melalui sistem otomatisasi yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) dan platform digital berbasis website, pembudidaya dapat mengatur waktu sekaligus takaran pakan secara lebih terjadwal.
Desa Gugut sendiri merupakan salah satu desa binaan Universitas Jember yang memiliki potensi dalam pengembangan budidaya ikan air tawar. Berdasarkan proposal program, terdapat sekitar 50 keluarga yang membudidayakan lele dengan total 50 kolam dalam program Satu Kolam Satu Keluarga.
Namun, aktivitas budidaya masih menghadapi sejumlah kendala. Kesibukan warga membuat pemberian pakan terkadang tidak dilakukan tepat waktu. Selain itu, takaran pakan yang diberikan juga belum sepenuhnya terukur sehingga berpotensi memengaruhi efisiensi budidaya.
Ketua Tim PPK ORMAWA HMVE UNEJ, Raditya Pratama Putra, menjelaskan bahwa SIPKOM dikembangkan melalui serangkaian tahapan, mulai dari riset, perancangan modul, sistem mekanikal dan elektrikal hingga proses eksekusi yang dilakukan dalam waktu sekitar satu bulan.
“Keunggulan SIPKOM adalah penggunaan IoT dan aplikasi berbasis website. Warga dapat mengatur pemberian pakan dari rumah, termasuk ketika sedang tidak berada di kolam. Selain pakan otomatis, sistem juga dilengkapi sensor suhu dan pH,” ujarnya.
Menurut Raditya, SIPKOM tidak sekadar ditujukan sebagai alat otomatisasi pemberian pakan. Teknologi tersebut diharapkan menjadi bagian dari transformasi digital dalam pengelolaan budidaya ikan masyarakat.
Bahkan, berdasarkan hasil pengujian awal tim, capaian panen menunjukkan hasil yang melampaui target awal sekitar 25 persen.
“Program SIPKOM ini tidak berhenti pada penyerahan alat. Dalam rancangan program, kami juga melakukan pelatihan pembuatan, instalasi, pengoperasian, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi,” jelasnya.
Menariknya, perangkat smart feeder tersebut juga dirancang dengan memanfaatkan limbah galon plastik sebagai salah satu komponen utama. Pemanfaatan bahan bekas itu diharapkan memberikan nilai tambah sekaligus mendukung aspek keberlanjutan lingkungan.
Program SIPKOM menargetkan penerapan teknologi pada kolam masyarakat, peningkatan efisiensi penggunaan pakan, serta peningkatan kemampuan warga dalam merakit, mengoperasikan dan melakukan perawatan perangkat.
Dalam proposalnya, tim menargetkan sedikitnya enam unit smart feeder serta pelatihan yang melibatkan minimal 30 kepala keluarga.
Tak berhenti pada tahap implementasi awal, HMVE UNEJ juga menyiapkan skema keberlanjutan program. Tim mendorong kolaborasi dengan Pemerintah Desa Gugut, kelompok pembudidaya ikan, serta Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Jember.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjadikan SIPKOM sebagai model teknologi tepat guna yang dapat dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain.
Dengan demikian, inovasi mahasiswa UNEJ tidak hanya menghasilkan perangkat teknologi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat, produktivitas budidaya ikan, penguatan ekonomi keluarga hingga mendukung ketahanan pangan desa.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Jember, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., turut mengapresiasi inovasi yang dikembangkan mahasiswa vokasi tersebut.
Menurutnya, SIPKOM menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi sederhana dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Teknologi ini memberikan efektivitas dalam pemberian pakan ikan. Ketika pemilik kolam harus meninggalkan rumah beberapa hari, pemberian pakan tetap dapat diatur sesuai durasi yang telah disetting,” jelas Fendi.
Ia menilai sistem pemantauan kondisi kolam yang terintegrasi dalam SIPKOM juga menjadi keunggulan tersendiri. Sensor pH dan suhu dapat membantu pembudidaya memantau kondisi air sehingga ekosistem kolam dapat lebih terkontrol.
Pemilihan Desa Gugut sebagai lokasi program juga dinilai tepat karena memiliki ketersediaan sumber daya air serta tradisi masyarakat dalam mengembangkan budidaya ikan air tawar.
“Mudah-mudahan teknologi yang sederhana ini bisa dimanfaatkan masyarakat sehingga dapat mengoptimalkan budidaya ikan yang dimiliki,” katanya.
Sementara itu, Ahmadi, salah seorang pemilik kolam, mengaku terbantu dengan hadirnya SIPKOM. Selama ini, ia bersama pekerja memberikan pakan ikan secara manual dua kali sehari, yakni sekitar pukul 07.00 WIB dan 16.00 WIB.
Aktivitas lain terkadang membuat pemberian pakan mengalami keterlambatan. Kehadiran smart feeder dinilai dapat membantu mengatasi persoalan tersebut.
“Dengan adanya alat ini, kita tinggal pencet aplikasinya, pakan langsung masuk ke ikan. Jadi lebih terjadwal dan lebih mudah,” ungkapnya.
Ahmadi berharap teknologi SIPKOM terus dikembangkan agar dapat mengendalikan beberapa kolam sekaligus. Harapan itu muncul karena saat ini dirinya mengelola sebanyak 26 kolam.
Menurutnya, sistem yang mampu mengatur banyak kolam dalam satu perangkat akan semakin meningkatkan efisiensi pengelolaan budidaya ikan.
Melalui SIPKOM, HMVE UNEJ membuktikan bahwa inovasi mahasiswa tidak berhenti di lingkungan kampus. Teknologi yang dikembangkan justru diarahkan untuk hadir langsung di tengah masyarakat, membantu mengubah pola budidaya ikan dari sistem manual menuju pengelolaan yang lebih terukur, terjadwal, efisien, dan berbasis digital.