JEMBER (Surau.ID) — Dua tim mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) membawa inovasi teknologi kapal ke ajang nasional Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2026. Tim Sagara Pandhalungan dan Clarion tampil di Politeknik Negeri Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, Jumat (11/9/2026), dengan mengandalkan prototipe kapal yang mengadopsi teknologi coast guard.
Keikutsertaan tersebut bukan sekadar untuk memperebutkan gelar juara. Dua tim UNEJ membawa misi menguji kemampuan mahasiswa dalam menerjemahkan konsep dan hasil pembelajaran menjadi teknologi kapal yang dapat dirancang, dibangun, diuji, hingga dioperasikan.
Masing-masing tim diperkuat lima anggota inti dan dua anggota pendukung. UNEJ juga menurunkan dua dosen pembimbing serta dua pendamping kemahasiswaan untuk mendukung proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNEJ, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., mengatakan kompetisi teknologi menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman belajar mahasiswa yang bersifat aplikatif.
Menurutnya, penguasaan teori harus diimbangi dengan pengalaman menghadapi persoalan teknologi secara langsung.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka perlu mendapatkan pengalaman merancang, membangun, menguji, dan menyelesaikan persoalan teknologi secara langsung,” ujar Fendi.
Ia menilai KKI menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk mengukur kemampuan sekaligus melihat sejauh mana inovasi yang dikembangkan UNEJ mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain di tingkat nasional.
Fendi berharap pengalaman mengikuti KKI 2026 tidak berhenti setelah kompetisi berakhir. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi mahasiswa, khususnya dalam pengembangan teknologi kapal dan robotika.
“Dengan pembinaan yang berkelanjutan, kami berharap tim-tim mahasiswa UNEJ mampu menghasilkan inovasi yang semakin matang dan meraih prestasi yang lebih baik pada kompetisi berikutnya,” katanya.
Teknologi coast guard yang diterapkan dalam prototipe kedua tim mengacu pada teknologi dan sistem yang lazim digunakan kapal penjaga pantai. Teknologi tersebut mendukung berbagai fungsi, mulai dari pengawasan dan patroli, keselamatan pelayaran, penegakan hukum, pencarian dan pertolongan atau SAR, hingga perlindungan wilayah perairan.
Di balik prototipe tersebut terdapat proses pengerjaan yang cukup intensif. Kedua tim membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk mengembangkan kapal, mulai dari tahap perancangan, pembangunan, hingga pengujian.
Pembimbing Tim Sagara Pandhalungan, Ir. Wahyu Muldayani, S.T., M.T., mengatakan keterbatasan waktu menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pengembangan prototipe.
“Dalam waktu tiga sampai empat bulan mahasiswa harus mampu mengubah rancangan menjadi sebuah prototipe yang dapat dibangun dan diuji. Tantangannya bukan hanya membuat kapal, tetapi memastikan desain, komponen, dan sistem yang digunakan dapat bekerja dengan baik,” jelas Wahyu.
Sementara itu, Pembimbing Tim Clarion, Rudianto, S.T., M.T., menilai KKI menjadi sarana penting untuk membentuk kemampuan mahasiswa sebagai calon perancang dan pengembang teknologi.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya belajar membangun teknologi, tetapi juga memperoleh kesempatan mengevaluasi hasil pengembangan ketika berhadapan langsung dengan tim dari perguruan tinggi lain.
“Motivasi utama kami adalah mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam merancang, membangun, dan menguji teknologi kapal secara langsung. Kompetisi ini juga menjadi proses evaluasi,” kata Rudianto.
Bagi kedua tim, target mengikuti KKI 2026 tidak berhenti pada perolehan medali. Kompetisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan inovasi mahasiswa UNEJ melalui Tim Clarion dan UGER Hydrotech Robotika UNEJ.
Keduanya berharap pengalaman di tingkat nasional dapat menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan teknologi yang dikembangkan sekaligus memperkuat posisi UNEJ dalam pengembangan inovasi mahasiswa di bidang teknologi kelautan dan robotika.
“Target kami tentu meraih prestasi di tingkat nasional. Tetapi prestasi bukan satu-satunya ukuran. Kompetisi ini menjadi evaluasi penting bagi tim agar mengetahui apa yang sudah baik dan apa yang masih harus dikembangkan,” pungkas Rudianto.