Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
24 September 2026 | 18:27 WIB
Nasional

BRIN Ungkap Alasan Indonesia Perlu Mandiri Kembangkan Teknologi Satelit

Brin b
Diskusi interaktif bersama pelajar pada Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026 Aerospace Talent School di KST B.J. Habibie, Serpong, Rabu (23/9). {Foto: BRIN}

 

Tangerang Selatan (Surau.ID) — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia perlu memperkuat kemampuan teknologi satelit secara mandiri sekaligus memastikan ruang angkasa tetap berkelanjutan. Kebutuhan tersebut semakin penting karena gangguan jaringan komunikasi saat bencana dapat menghambat penanganan keadaan darurat, sementara jumlah objek buatan manusia di orbit terus bertambah.

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi, mengatakan pengembangan teknologi satelit harus disesuaikan dengan kebutuhan nasional, termasuk kondisi geografis Indonesia dan potensi bencana. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi interaktif bersama pelajar pada Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026 Aerospace Talent School di KST B.J. Habibie, Serpong, Rabu (23/9).

Melansir BRIN, Wahyudi menjelaskan bahwa jaringan komunikasi berbasis darat berisiko terganggu atau bahkan terputus ketika bencana terjadi. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Indonesia mengembangkan satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI untuk mendukung komunikasi dalam keadaan darurat.

Satelit tersebut membawa muatan voice repeater yang dapat digunakan untuk komunikasi radio amatir. Dengan dukungan radio genggam (hand transceiver/HT) dan antena sederhana, teknologi tersebut memungkinkan komunikasi menjangkau wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

“Kalau ada bencana, berarti kita harus punya the means of telecommunication. Kita harus membuat sistem yang sangat murah sehingga semua orang dapat menggunakannya setiap saat,” ujarnya.

Wahyudi menjelaskan, pengembangan teknologi satelit dilakukan melalui pendekatan system engineering. Tahap awal dimulai dengan menerjemahkan kebutuhan atau misi ke dalam system requirement. Setelah itu, pengembangan dinilai berdasarkan kesiapan teknologi, dukungan pendanaan, serta ketersediaan akses menuju luar angkasa.

Tantangan Peluncuran Satelit

Indonesia hingga saat ini belum memiliki roket peluncur sendiri. Karena itu, kerja sama dengan negara lain, termasuk India, menjadi salah satu opsi untuk mendukung peluncuran satelit Indonesia.

Letak Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa juga dinilai memiliki keuntungan strategis dalam kegiatan antariksa. Kondisi geografis tersebut membuat Indonesia memiliki posisi yang relatif efisien untuk peluncuran roket.

“Kita ini negara yang sangat strategis untuk space. Kalau meluncurkan roket, posisi geografis negara kita paling efisien,” katanya.

Selain faktor lokasi, pemilihan orbit turut menentukan efektivitas satelit dalam melayani wilayah Indonesia. Wahyudi menyebut orbit ekuatorial memberikan frekuensi lintasan yang lebih sesuai untuk kebutuhan Indonesia dibandingkan orbit polar. Satelit LAPAN-A2, misalnya, dapat melintasi wilayah Indonesia hingga 14 kali dalam sehari karena berada pada orbit ekuatorial.

Perkembangan teknologi satelit juga diikuti oleh peningkatan jumlah benda buatan manusia yang berada di orbit. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri seiring berkembangnya konstelasi satelit untuk mendukung kebutuhan komunikasi.

Wahyudi mengatakan ruang angkasa juga mulai dipertimbangkan sebagai lokasi penyimpanan data. Menurut dia, kebutuhan energi dan sistem pendinginan untuk fasilitas pengelolaan data dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam memanfaatkan ruang angkasa.

“Kenapa space lebih efisien dari sisi power? Ketika kita membangun cloud center di Bumi, kebutuhan listriknya sangat besar karena penggunaan energi di Bumi relatif kurang efisien,” tuturnya.

Menjaga Ruang Angkasa Tetap Berkelanjutan

Selain aspek teknologi, pemanfaatan ruang angkasa menghadirkan persoalan hukum dan tata kelola. Wahyudi menjelaskan ruang angkasa memiliki karakter berbeda dengan ruang udara karena tidak dapat diklaim sebagai wilayah kedaulatan suatu negara berdasarkan hukum internasional.

Karena itu, pemanfaatan ruang angkasa membutuhkan koordinasi dan tanggung jawab bersama antarnegara. Bertambahnya jumlah objek di orbit turut mendorong pembahasan mengenai space traffic management dan space sustainability.

Konsep tersebut diperlukan untuk menjaga lalu lintas benda antariksa tetap tertata sekaligus memastikan ruang angkasa dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

“Kita perlu menjaga ruang angkasa agar tetap dapat dimanfaatkan oleh anak cucu dan generasi mendatang. Keberlanjutan ini penting karena ruang angkasa memiliki peran yang semakin besar dalam mendukung kehidupan manusia,” pungkasnya.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id