Penulis: Nurkhaliq BR*
SEPERTINYA alam semesta ini punya selera humor yang gelap, atau mungkin memang ingin menunjukkan kemarahan yang purba. Di tengah jeratan harga kebutuhan pokok yang menukik, upah minimum yang hanya cukup untuk sekadar bertahan hidup—bukan untuk hidup layak—tiba-tiba, bam! Datanglah bencana. Gempa, banjir, tanah longsor, atau sekadar angin kencang yang merobohkan papan reklame. Tentu, ini bukan hanya tragedi. Ini ironi; sebuah tragedi dalam bingkai kemiskinan struktural.
Kebijakan: Ritual Penanganan yang Menghibur
Lihatlah reaksi pertama yang muncul dari para pemangku kebijakan. Selalu ada pola yang sama: kunjungan mendadak dengan formasi lengkap, kamera wartawan yang sigap, dan janji-janji perbaikan infrastruktur yang terdengar heroik namun seringkali hanya berbasis informasi tanpa implementasi. Dana darurat dicairkan, tenda pengungsian didirikan, dan dapur umum beroperasi. Semua ini adalah ritual penanganan bencana yang kita kenal, sebuah upaya instan untuk menenangkan kekacauan yang tak pernah menyentuh akar masalahnya.
Kebijakan penanggulangan bencana kita seringkali lebih menyerupai pemadam kebakaran yang hanya menyemprotkan air setelah api besar melahap habis semua. Ia luput dari pertanyaan mendasar: Mengapa kerentanan itu selalu terpusat pada kelompok yang sama? Jawabannya, tentu saja, terletak pada kebijakan tata ruang yang abai, pada izin-izin pembangunan atau pertambangan yang diperjualbelikan di tepian sungai atau lereng bukit yang rawan, dan pada pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi di atas daya dukung ekologi. Bencana bukan hanya peristiwa alam; ia adalah produk dari kegagalan kebijakan jangka panjang.
Lingkungan: Alam yang Mulai Menagih Utang
Kita telah lama hidup dalam ilusi bahwa alam adalah entitas pasif yang bisa kita eksploitasi tanpa batas. Hutan-hutan ditebang demi perkebunan sawit atau tambang nikel; sungai-sungai dijadikan tempat pembuangan sampah dan limbah industri. Ketika bencana datang, ia tidak lain adalah alam yang mulai menagih utang-utang peradaban kita.
Banjir bandang di beberapa daerah bukanlah sekadar curah hujan tinggi; itu adalah jeritan dari daerah resapan air yang telah berubah menjadi beton. Tanah longsor di beberapa wilayah bukan sekadar pergerakan geologi; itu adalah konsekuensi dari bukit-bukit yang dicukur habis untuk proyek properti mewah. Ironisnya, yang paling cepat dan paling dalam merasakan kemarahan alam ini adalah mereka yang paling sedikit menikmati hasil eksploitasinya—yakni masyarakat miskin dan rentan yang terpaksa tinggal di pinggiran yang paling berbahaya. Ini adalah ketidakadilan ekologis yang berlapis.
Sosial: Solidaritas yang Pahit
Di tengah puing-puing, hal paling manusiawi yang muncul adalah solidaritas. Tetangga saling membantu, donasi mengalir dari berbagai penjuru, dan relawan berdatangan membawa logistik. Ini adalah sisi kemanusiaan yang menghangatkan, sebuah kesadaran kolektif bahwa kita semua adalah penumpang dalam perahu yang sama.
Namun, bahkan solidaritas ini pun memiliki rasa pahit. Mengapa kita harus menunggu bencana terjadi untuk saling peduli? Mengapa empati dan gotong royong ini hanya bersifat sporadis dan reaktif, bukan menjadi etos yang terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari dan, yang lebih penting, dalam formulasi kebijakan?
Bencana memampatkan semua masalah sosial ke dalam satu momen yang brutal. Kita melihat kesenjangan dalam akses informasi, ketimpangan dalam kecepatan dan kualitas bantuan, dan kerapuhan mental yang melanda mereka yang sudah susah, kini kehilangan segalanya.
Hidup sudah susah, malah ada bencana. Kalimat ini bukan hanya keluhan, melainkan sebuah pernyataan politik. Ini adalah bukti bahwa sistem kita gagal menciptakan perlindungan dasar bagi warganya. Bencana adalah cermin besar yang menunjukkan wajah asli peradaban kita yang rapuh, di mana kemiskinan dan kerusakan lingkungan berjalan beriringan menuju jurang yang sama.
Tugas kita—sebagai manusia yang masih waras—bukan hanya membangun kembali puing-puing, tetapi menuntut perombakan total pada sistem kebijakan dan cara pandang kita terhadap alam. Jika tidak, bencana berikutnya hanya menunggu jam tayang (coming soon).
*) Direktur Eksekutif Aksara Center, Tenaga pengajar di Ponpes Nurul Jadid dan penikmat kopi.