JAKARTA (Surau.ID) —Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatra Barat, Aceh, dan Sumatra Utara tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan dampak serius pada kondisi psikologis masyarakat terdampak. Menyikapi hal tersebut, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU) menegaskan pentingnya pemulihan psikososial sebagai bagian krusial dari penanganan pascabencana.
Sekretaris LKK PBNU, Ai Maryati Sholihah, menyampaikan bahwa pendampingan psikososial menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan di wilayah terdampak, khususnya di Kabupaten Agam dan Kota Padang, Sumatra Barat.
“Pemulihan ini sangat penting untuk mengembalikan rasa percaya diri, mengelola emosi, serta meminimalisir kemungkinan dampak jangka panjang dari bencana ekologis, terutama pada anak-anak dan perempuan sebagai kelompok rentan,” ujar Maryati kepada NU Online, Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, pengalaman LKK PBNU dalam memberikan dukungan psikososial di Sumatra Barat dan Aceh menunjukkan bahwa dampak pascabencana tidak berhenti pada kerugian materiil, tetapi juga menyentuh aspek ketahanan psikis penyintas. Oleh karena itu, pendekatan psikososial diperlukan untuk memulihkan rasa aman, nyaman, dan stabilitas emosi, sekaligus membangkitkan kembali semangat hidup masyarakat terdampak.
Saat ini, LKK PBNU tengah melakukan pendampingan intensif selama lima hari di Kota Padang dan Kabupaten Agam. Dalam kegiatan tersebut, LKK PBNU melatih 21 relawan di Kabupaten Agam dan 26 relawan di Kota Padang. Para relawan ini akan terus mendapatkan pemantauan agar mampu menjangkau layanan psikososial di berbagai titik yang membutuhkan.
Maryati menjelaskan bahwa dua wilayah tersebut menjadi titik awal bagi tim LKK PBNU dan relawan untuk melakukan identifikasi kebutuhan psikososial warga. Pendampingan difokuskan pada anak-anak dan ibu rumah tangga yang dinilai paling membutuhkan perhatian khusus.
Ia menambahkan, salah satu isu psikososial paling mendesak adalah perlunya pendekatan yang bersumber dari potensi lingkungan setempat. Pendekatan tersebut dilakukan melalui penguatan spiritual dan emosional dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan agar penyintas mampu berserah diri kepada takdir, namun tetap aktif melanjutkan kehidupan.
Pendekatan terhadap anak-anak juga menjadi perhatian utama. Pascabencana, banyak anak mengalami gangguan psikologis, mulai dari trauma, hambatan aktivitas belajar, hingga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang rusak. Kondisi ini membutuhkan ruang pelepasan emosi melalui pendekatan individu, kolektif, maupun keluarga.
Dalam pelaksanaan pendampingan, LKK PBNU menjadikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai landasan. LKK PBNU memiliki panduan khusus yang diawali dengan pendekatan psikologis untuk menciptakan rasa aman, tenang, dan damai bagi korban yang mengalami kecemasan, ketakutan, mimpi buruk, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan.
“Jika ditemukan kebutuhan intervensi psikologis lanjutan, kami akan melakukan rujukan. LKK PBNU memiliki tenaga psikolog yang kompeten dan kami bawa langsung ke lapangan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Maryati menegaskan bahwa LKK PBNU berfokus pada penguatan ketahanan keluarga dengan membangun kembali nilai-nilai kemaslahatan keluarga. Upaya ini mencakup pemulihan relasi individu dan keluarga yang terganggu akibat bencana, termasuk karena kehilangan anggota keluarga dan tekanan emosional lainnya.
Sebagai tindak lanjut, LKK PBNU juga melatih relawan agar konsisten memberikan dukungan, informasi, serta memantau perkembangan psikologis penyintas setelah layanan diberikan. Pendampingan berkelanjutan ini dilakukan melalui pemetaan potensi masyarakat dan kebutuhan lokal, sehingga tetap berjalan meski tim pusat telah kembali ke Jakarta.
Maryati menekankan pentingnya dukungan sosial dalam proses pemulihan psikososial. Menurutnya, penyintas membutuhkan ruang aman untuk bercerita, saling menguatkan, serta keterbukaan untuk menerima pendampingan profesional apabila diperlukan.
“Kita menerima bencana sebagai takdir Tuhan secara sadar, namun juga berupaya menumbuhkan kembali rasa percaya, semangat hidup, dan keberlanjutan kehidupan,” tuturnya.
Ke depan, LKK PBNU berencana memperkuat koordinasi dengan NU Care-LAZISU, LPBI NU, dan Kementerian Agama (Kemenag) guna memastikan keberlanjutan program pemulihan psikososial bagi penyintas bencana di Aceh dan Sumatra Barat. Sementara itu, wilayah Sumatra Utara masih menjadi tantangan karena belum dapat dijangkau secara optimal.
Sumber: Nu Online