Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
22 Februari 2026 | 15:45 WIB
Aksara

Yeah! Probolinggo Dikepung Banjir

Pelayanan MBG digeser menyesuaikan waktu berbuka puasa, ada opsi disalurkan 20260222 011043
Penulis: Zainul Hasan R.*

 

SEBULAN terakhir ini, setiap kali hujan turun deras dan berlangsung lama, saya punya kebiasaan baru: membuka WhatsApp. Bukan sekadar membalas pesan, tetapi melihat status teman-teman. Dalam benak saya selalu muncul pertanyaan yang sama, daerah mana lagi yang akan terkena banjir malam ini? Seolah-olah kita mulai menghafal pola yang sebenarnya tidak pernah ingin kita hafal.

Sepanjang 2025 hingga awal 2026, banjir seperti datang tanpa jeda di Probolinggo. Pagi itu, kabarnya pertama kali saya dapat, lagi-lagi dari layar WhatsApp. Status dan pesan masuk silih berganti: foto jalan berubah jadi sungai, video warga mengevakuasi barang, kabar air naik sejak tengah malam.

Saya mulai bertanya dalam hati, apakah ini akan menjadi kebiasaan baru setiap musim hujan? Membuka WhatsApp, lalu mendapati Probolinggo kembali terendam.

Dari cerita kawan di Gending, banjir bahkan terjadi beberapa kali dalam waktu berdekatan. Desa Pajurangan, khususnya Dusun Modinan, mengalami genangan berulang sejak awal Januari 2026. Air meluap akibat hujan deras di wilayah hulu. Artinya, persoalan bukan hanya hujan di tempat kami berdiri, tetapi juga kiriman debit air dari atas yang tidak lagi tertampung sungai.

Krejengan pun mengalami kejadian serupa pada 2025. Ratusan kepala keluarga terdampak. Lumpur memenuhi rumah, usaha kecil terhenti, sekolah terganggu.

Yang membuat saya semakin merenung, beberapa daerah yang sebelumnya relatif aman kini ikut terdampak. Drainase tidak mampu menampung air, sungai meluap karena kiriman dari hulu. Banjir seperti memperluas wilayahnya dari tahun ke tahun.

Lebih dari Sekadar Hujan

Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu utama. Namun banjir yang terjadi bisa jadi bukan semata-mata karena hujan.

Kapasitas sungai bisa saja menurun akibat sedimentasi dan pendangkalan. Drainase permukiman di sejumlah titik mungkin belum dirancang untuk menampung curah hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat. Alih fungsi lahan dan berkurangnya area resapan juga membuat air hujan langsung mengalir ke sungai tanpa sempat terserap tanah.

Ada pula faktor yang jarang dibicarakan secara terbuka: perubahan lanskap akibat pembangunan infrastruktur besar, termasuk Jalan Tol Trans Jawa di jalur Pantura. Pembangunan tol membawa manfaat besar bagi konektivitas dan ekonomi. Namun secara hidrologis, proyek berskala besar dapat mengubah pola aliran air permukaan.

Badan jalan tol yang memanjang, tanggul konstruksi, serta perubahan elevasi tanah berpotensi menggeser arah aliran air alami. Jika sistem drainase tol dan saluran penghubungnya tidak terintegrasi optimal dengan sungai-sungai kecil dan saluran desa, air bisa tertahan atau melimpah ke permukiman sekitar.

Di wilayah dataran rendah seperti Pakuniran, Paiton, Besuk, Kotaanyar, serta Kraksaan, perubahan kecil dalam pola aliran saja bisa berdampak besar saat debit sungai meningkat bersamaan dengan hujan ekstrem.

Semua itu membuat kita sadar bahwa banjir yang terjadi dalam setahun terakhir tampaknya merupakan hasil dari kombinasi banyak faktor tersebut.

Ujian Terbuka Gus Haris – Ra Fahmi

Dalam konteks inilah, satu tahun pemerintahan Gus Haris dan Ra Fahmi benar-benar diuji. Bencana tidak datang sekali, tetapi berulang. Ia hadir di tengah proses penataan program dan prioritas pembangunan.

Penanganan darurat tentu penting: evakuasi cepat, bantuan logistik, dan pemulihan infrastruktur. Namun langkah jangka panjang jauh lebih menentukan. Normalisasi sungai, penguatan tanggul, evaluasi sistem drainase, pengendalian alih fungsi lahan, hingga audit dampak hidrologis proyek-proyek besar perlu menjadi agenda bersama.

Sebagai warga, saya memahami bahwa persoalan ini tidak sederhana. Tetapi publik tentu berharap ada arah yang jelas dan terukur.

Di tengah situasi ini, saya tetap melihat harapan pada kekuatan sosial masyarakat. Gotong royong membersihkan lumpur, dapur umum swadaya, dan relawan yang bergerak cepat menunjukkan bahwa solidaritas masih menjadi kekuatan utama Probolinggo.

Namun setiap kali hujan deras turun dan status WhatsApp kembali dipenuhi foto rumah terendam, saya merasa kita tidak boleh menganggap ini sebagai rutinitas tahunan yang wajar.

Setahun memang belum cukup untuk menyelesaikan persoalan lama. Tetapi setahun cukup untuk menunjukkan komitmen dan keseriusan.

Saya berharap suatu hari nanti, ketika hujan turun deras dan panjang, saya tidak lagi membuka WhatsApp dengan rasa cemas. Tidak lagi bertanya dalam hati, wilayah mana lagi malam ini? Saya ingin Probolinggo bukan hanya tangguh menghadapi bencana, tetapi juga semakin siap mencegahnya, agar warga bisa hidup lebih tenang di tanahnya sendiri.

*) Founder Aksara Center – Pegiat media dan pemerhati isu sosial-keagamaan.

Penulis: Zainul Hasan R
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id