(Dalam perjalanan menuju pulang, Ramadhan 1446 H.)
BUS yang menuntun saya dalam perjalanan ini cukup penuh. Benar-benar penuh, hingga banyak penumpang harus berdiri karena tidak kebagian kursi. Penanda waktu sholat di hape berbunyi bersamaan teriakan Kondektur bahwa sudah masuk waktu berbuka. Namun, saya tidak bawa apa-apa untuk dimakan, air pun tidak. Sekalian saat turun saja, pikir saya.
Selang beberapa menit setelah waktu berbuka, lamunan saya buyar saat pedagang asongan naik dan masuk ke dalam bus. Karena sunnah-nya berbuka tidak boleh menunda–jika memungkinkan tidak ditunda, saya berniat membeli minum.
Dagangan yang jarang sekali saya beli selain di bulan Ramadhan, sekarang punya efek magis yang berbeda. Minuman, tahu, dan varian makanan sederhana yang biasanya selalu membuat saya membuang muka, kini cukup menghipnotis saya yang sejak shubuh menahan lapar dan dahaga. Alhamdulillah, penuh puasanya penuh. Haha.
Meski tidak seramai tadi, pedagang itu langkahnya sedikit terhambat saat menjajakan dagangannya musabab masih banyak penumpang yang berdiri di tengah-tengah, di antara kursi di kanan kiri. Ketika hanya tinggal dua langkah dari tempat saya duduk, saya memandang mata pedagang sambil mengangkat tangan, “Teh pucuk, Pak,” ujar saya, menyodorkan uang pas.
Saya lapar memang, tapi untuk sekarang sepertinya cukup membatalkan puasa dulu. Makan besarnya bisa nanti, ketika sampai di tujuan.
Ada yang satu hal membuat saya tersenyum dan merenung. Saya semakin menyadari bahwa keberkahan di bulan Ramadhan itu benar adanya. Sesederhana pedagang yang lebih banyak dibeli saat berbuka. Berkah itu seperti angin: tak bisa dilihat, tetapi bisa dirasa. Kata guru saya saat mengaji di pesantren, sesuatu yang dihinggapi keberkahan selalu ditandai dengan bertambahnya kebaikan.
Seperti keberadaan pedagang tadi. Saat azan maghrib berkumandang, beberapa penumpang membeli minum atau makanan untuk berbuka setelah beribadah puasa seharian penuh, dan pedagang pun mendapatkan kebaikan dari mereka: mendapat rezeki dari hasil jualannya yang menurut hemat saya lebih laku saat-saat seperti ini daripada waktu-waktu lain.
Saya kembali merenung: bertambahkah kebaikan dalam diri saya saat menunaikan ibadah puasa? Atau justru hanya karena telah berhasil menahan diri dari yang dzohir, kemudian saya jumawa karena telah berhasil melaksanakan ibadah puasa? Entah, saya tak pernah benar-benar menemukan jawaban itu.
Dalam buku karangannya yang berjudul ‘Nabi Muhammad Bukan Orang Arab(?)’, Gus Dhofir Zuhry menyampaikan bahwa berpuasa harus totalitas. Maksudnya, nilai-nilai puasa atau ibadah lainnya juga harus dipegang di luar waktu-waktu ibadah itu.
Maka berpuasalah di luar bulan puasa, sholatlah di luar sholat, berhajilah di luar ibadah haji. Karena ketika berbangga diri berhasil mencapai taraf tertentu dalam beribadah, hakikatnya kita bukan menyembah Tuhan, tetapi menyembah puasa, menyembah sholat, dan menyembah ibadah-ibadah semata.
Semoga keberkahan dan kebaikan selalu mengelilingi kita melalui ridlo-Nya. Wallahu a’lam.
___________________
*) Pernah nyantri di Paiton dan Tambakberas, saat ini sedang menempuh studi Hukum di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bukan penulis, tapi suka nulis.