LAGU SESI POTRET yang dinyanyikan oleh Enau bersama kakaknya, Ari Lesmana, bukan hanya tentang keluarga. Ia adalah tentang penyesalan. Tentang kepulangan yang selama ini ditunda, hingga akhirnya waktu tak lagi memberi kesempatan.
“Maaf tak bisa pulang, penghasilanku pas-pasan…”
Baris pembuka itu terasa begitu manusiawi. Ada gengsi, ada perjuangan, ada keinginan untuk pulang dengan keadaan yang lebih layak. Kita sering menunda pulang karena merasa belum cukup berhasil. Kita ingin membawa oleh-oleh, membawa kabar baik, membawa kebanggaan.
Namun hidup tidak selalu menunggu kesiapan kita.
“Dan tahun ini, kubisa pulang…
Tapi anehnya, bukan kau yang menyambutku…”
Di titik inilah lagu berubah menjadi duka yang sunyi. Kepulangan yang dinanti justru menjadi pertemuan dengan kehilangan. “Ku bertamu ke rumah barumu, tak ada kamu, hanya papan dan namamu.” Rumah baru itu adalah makam. Pulang yang seharusnya hangat berubah menjadi ziarah yang hening.
Dalam puisinya yang terkenal, Chairil Anwar menulis: “Sekali berarti sudah itu mati.” Baris itu sederhana namun menghantam. Hidup hanya sekali. Kebersamaan pun demikian. Tak ada pengulangan. Tak ada latihan kedua. Ketika kesempatan berlalu, ia benar-benar berlalu.
Filsuf eksistensialis Martin Heidegger menyebut manusia sebagai being-toward-death—makhluk yang berjalan menuju kematian. Kesadaran akan kefanaan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan: waktu bersama orang-orang yang kita cintai sangat terbatas.
Ramadan sering kali menjadi momentum pulang. Para perantau kembali. Jalanan dipenuhi kendaraan yang menuju kampung halaman. Kita membayangkan pelukan ibu, senyum ayah, dan meja makan yang lengkap. Namun lagu ini mengingatkan: tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.
Dalam suasana kehilangan seperti dalam lagu itu, terngiang pula bait dari Sapardi Djoko Damono: “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” Waktu kebersamaan memang fana. Tetapi cinta, doa, dan kenangan memiliki keabadian dalam ingatan dan dalam catatan Tuhan. Orang yang telah “lebih dulu pulang” mungkin tak lagi hadir secara fisik, tetapi kasihnya tetap tinggal dalam diri kita.
Ada yang pulang hanya untuk mendapati nisan.
“Sesal hatiku tak sempat temani kamu
Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu…”
Kata ajaib itu mungkin adalah “maaf”, mungkin juga “terima kasih”, atau “aku sayang kamu.” Kata-kata yang sering terasa canggung untuk diucapkan ketika orangnya masih ada, tetapi menjadi sangat mahal ketika ia telah tiada.
Psikiater Austria, Viktor Frankl, pernah menulis bahwa penderitaan menjadi bermakna ketika kita berani menghadapinya dengan kesadaran. Penyesalan dalam lagu ini bukan sekadar ratapan, tetapi kesadaran bahwa cinta tak boleh ditunda.
Ramadan sesungguhnya adalah madrasah untuk itu. Ia melatih kita merendahkan gengsi, melembutkan hati, dan menyegerakan maaf. Dalam liriknya disebutkan, “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir.” Betapa jujurnya pengakuan itu. Ikhlas memang bukan teori; ia adalah latihan seumur hidup.
Ulama besar seperti Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia mudah tertutup oleh kesombongan dan cinta dunia. Gengsi menyelimutiku, kata lagu itu. Gengsi membuat kita menunda pulang. Gengsi membuat kita menunggu sukses dulu baru ingin memeluk orang tua. Padahal cinta orang tua tak pernah mensyaratkan keberhasilan.
“Sesi potret yang selalu ku benci,
Aneh rasanya kau tak di sini…”
Potret keluarga yang dulu mungkin terasa biasa, kini menjadi saksi kehilangan. Susunan barisan tak sama lagi. Ada ruang kosong yang tak tergantikan. Satu… dua… tiga… dan kamera menangkap senyum yang menyimpan luka.
Dalam suasana Idulfitri, potret keluarga sering menjadi ritual. Kita berdiri berdampingan, mengenakan pakaian terbaik, lalu mengabadikan momen. Lagu ini seakan berbisik lirih: jangan tunggu sampai susunan itu berubah. Jangan tunggu sampai satu barisan hilang.
Ramadan dan Idulfitri adalah pengingat bahwa semua manusia sedang dalam perjalanan pulang—pulang kepada Allah. Jika ada yang “lebih dulu pulang”, itu berarti ia lebih dahulu sampai pada tujuan hakikinya.
Kesadaran ini mestinya melahirkan dua sikap: syukur dan segera. Bersyukur jika orang tua masih ada. Segera meminta maaf jika masih diberi waktu. Segera pulang, walau tanpa oleh-oleh mewah. Karena yang mereka tunggu bukanlah bingkisan, melainkan kehadiran.
Pada akhirnya, Sesi Potret adalah cermin. Ia memantulkan wajah kita yang kadang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa kebersamaan tak bisa diulang. Lagu ini menjadi sangat relevan di bulan Ramadan, ketika hati lebih mudah tersentuh dan doa lebih sering dipanjatkan.
Mungkin tidak semua dari kita mengalami kepulangan yang terlambat seperti dalam lagu itu. Tetapi kita semua memiliki potensi untuk menyesal jika terus menunda cinta.
Maka sebelum takbir berkumandang, sebelum sesi potret berikutnya diambil, sebelum susunan barisan berubah—
pulanglah.
Dan jika belum bisa pulang secara fisik, pulangkanlah hati. Hubungi. Doakan. Maafkan. Ucapkan kata ajaib itu selagi masih ada telinga yang bisa mendengarnya.
Karena ketika seseorang telah lebih dulu pulang,
yang tersisa hanyalah papan dan nama—
serta rindu yang jaraknya terlalu jauh untuk dijangkau.
___________________________
*) Ketua PAC GP Ansor Krejengan, Probolinggo dan Guru BK SMKN 1 Kotaanyar.