Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
26 Maret 2026 | 23:23 WIB
Nasional

Ketupat Bukan Sekadar Makanan, Ini Makna Filosofinya

Lebaran Ketupat
wikipedia

 

Probolinggo (Surau.ID) — Menjelang Lebaran Ketupat, aktivitas jual beli janur dan cangkang ketupat di pelbagai daerah meningkat tajam. Sejak pagi, masyarakat sudah mulai memadati pasar tradisional di wilayah masing-masing, termasuk di Pasar Tradisional Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.

Lebaran Ketupat, dalam hal ini, menjadi salah satu tradisi kaya akan makna yang digelar sepekan setelah Idul Fitri. Selain itu, ketupat menjadi salah satu makanan yang dapat mempererat hubungan keluarga dan tetangga.

Hasyim, warga Desa Guyangan Krucil, menjelaskan bahwa tiap tahun para warga selalu berkumpul di musala ataupun di masjid untuk tasakuran dan berdoa dengan membawa ketupat dari rumah masing-masing.

“Ya, tiap tahun pasti berkumpul dan makan bersama di sini (langgar, red.)”, terangnya kepada Surau.ID.

Sejarah Ketupat

Ketupat tak sekadar hidangan khas Lebaran. Ketupat hadir dari perjalanan sejarah dan pertemuan antara budaya lokal Nusantara dengan ajaran Islam. Seperti yang disampaikan antropolog Clifford Geertz dalam The Religion of Java, praktik keagamaan di Jawa tidak bisa terlepas dari proses akulturasi pemaduan tradisi lama dengan nilai-nilai Islam.

Secara historis, sejak masa Hindu-Buddha, masyarakat Jawa sudah mengenal makanan berbahan dasar beras yang dibungkus daun. Namun, semenjak Islam mulai berkembang pada abad ke-16 di Jawa, ketupat memperoleh makna mendalam. Salah satu tokoh sentral yang berjasa dalam tradisi ini adalah Raden Sahid atau Sunan Kalijogo yang menggunakan budaya dalam berdakwah—tidak menghapus tradisi lokal, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai Islam agar lebih mudah diterima masyarakat.

Dalam catatan sejarah yang juga dikaji oleh Mark R. Woodward dalam bukunya Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, ketupat diperkenalkan sebagai simbol perayaan Idulfitri di lingkungan Kesultanan Demak pada masa pemerintahan Raden Patah. Tradisi “kupatan” pun berkembang sebagai bagian dari perayaan keagamaan yang sarat makna sosial dan spiritual.

Biasanya, perayaan kupatan dilaksanakan pada hari ke-7 atau ke-8 bulan Syawal, setelah umat Islam menjalankan puasa sunah enam hari. Pelaksanaan ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj dalam Sahih Muslim: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.”

Makna Ketupan Perspektif Jawa

Sementara itu, dalam perspektif budaya Jawa, istilah “kupat” sendiri mengandung makna filosofis yang dalam. Ia sering diartikan sebagai singkatan dari “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat tindakan utama dalam kehidupan). Makna ini menunjukkan bahwa ketupat tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol refleksi diri.

Filosofi itu semakin kuat jika dikaji dari setiap unsur bahan ketupat, yaitu janur atau daun kelapa muda sebagai pembungkus. Di mana, dalam tradisi Jawa, dimaknai sebagai “sejatining nur” (cahaya sejati) yang menggambarkan kesucian manusia setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Selain daunnya, anyaman ketupat yang rumit juga mencerminkan kompleksitas kehidupan manusia yang penuh kesalahan dan liku. Bentuknya yang menyerupai persegi empat sering dikaitkan dengan empat jenis nafsu dalam ajaran Islam, yaitu ammarah, lawwamah, supiyah, dan mutmainah.

Sedangkan isi di dalamnya berupa beras yang melambangkan kemakmuran dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Sebab ketika ketupat dibelah, warna putih menjadi simbol kesucian hati. Apalagi, menyantap ketupat dengan santan juga memiliki makna tersendiri. Dalam tradisi dan bahasa Jawa, “santan” kerap dihubungkan dengan kata “pangapunten” (permohonan maaf).

Dengan demikian, ketupat bukan hanya sekadar makanan musiman, melainkan kaya akan simbol yang merangkum nilai spiritual, sosial, dan budaya. Ini menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di Jawa tidak berjalan secara konfrontatif, melainkan melalui dialog budaya yang halus dan adaptif.

Menjaga tradisi Lebaran Kupatan bukan hanya soal melestarikan budaya, tetapi juga mempertahankan keseimbangan antara spiritualitas, kebersamaan, dan kearifan lokal.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id